Selasa, 2 September 2014

News / Sains

Gerhana Matahari Usai Hujan Meteor

Senin, 3 Januari 2011 | 16:44 WIB

KOMPAS.com — Selain hujan meteor Quadrantid, sebagian belahan bumi akan mendapat bonus pertunjukan angkasa lainnya pada hari Selasa (4/1/2011) malam yaitu gerhana matahari parsial. Sayang, peristiwa gerhana matahari pertama tahun ini tidak dapat disaksikan dari Indonesia.

Atraksi langit tersebut akan terjadi pada pagi hari setelah hujan meteor Quadrantid. Namun, hanya orang-orang yang berada di Eropa, bagian utara Afrika, dan Asia bagian barat saja yang akan mengalami fenomena alam itu. Tentu dengan syarat apabila cuaca mengizinkan dan langit tidak tertutup awan.

Bagian bayangan terluar bulan yang disebut penumbra akan menyapu belahan utara bumi. Daerah yang pertama kali mengalami gerhana adalah Algeria, negara terbesar kedua di Benua Afrika. Kontak pertama matahari dengan penumbra akan terjadi saat matahari terbit di kota Salah, sebuah kota oasis di Algeria tengah yang terletak di jantung Gurun Sahara di belahan utara Afrika.

Swedia adalah negara yang akan mendapat pertunjukan angkasa paling menarik dari gerhana parsial kali ini. Wilayah yang akan tertutupi bayangan bulan sampai dengan 80 persen pada saat matahari terbit adalah di bagian timurlaut Swedia sepanjang teluk Bothnia dekat kota Skellefteå. Di tempat itu matahari musim dingin akan tampak seolah terbit di cakrawala sebelah utara dengan bagian atas dan tengahnya tertutup bayangan bulan pada pukul 09.51 waktu setempat.

Pada akhirnya, bayangan akan menyelimuti hampir seluruh Eropa, belahan utara Afrika, kawasan Timur Tengah, dan Asia bagian barat. Bayangan Bulan akan terus bergerak ke arah timur dan akhirnya meninggalkan permukaan bumi di Kazakhstan, tepatnya di utara Danau Balkhash sekira 4 jam 21 menit setelah pertama kali mendarat di Algeria.(National Geographic Indonesia/Agung Dwi Cahyadi)


Editor : Tri Wahono
Sumber: