Kamis, 24 April 2014

News / Sains

Ikan Sili Nyaris Punah

Rabu, 21 Juli 2010 | 10:11 WIB

Baca juga

SANUR, KOMPAS.com - Ilmuwan biologi dari Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto, Jawa Tengah, mengatakan populasi salah satu ikan sungai yang dikenal dengan nama sili (Mastacembelidae Eel) terancam menurun.       "Oleh karena itu, diperlukan konservasi untuk penyelamatan agar tidak punah," kata Dr rer. nat. Windiarini Lestari, peneliti dari Fakultas Biologi Unversitas Jenderal Sudirman (Unsoed Purwokerto di arena pertemuan tahunan Association for Tripical and Conservation (ATBC) di Sanur, Bali, Rabu (21/7/2010).       Ia mengatakan diperlukan budi daya agar populasi ikan sili ini tidak semakin menurun. Pada pertemuan ATBC, 19-23 Juli 2010 yang diikuti sekitar 900 ilmuwan dalam negeri dan mancanegara itu, ia memaparkan tema "Ekologi dan Konservasi Mastacembelidea Eel berduri di Sungai Klawing, Jawa Tengah".       Ia menjelaskan ada satu spesies ikan sungai yang dikenal dengan nama lokal sili, diketahui sudah menurun populasinya. Dalam arti jumlah ikan tersebut sudah menurun, khususnya pada beberapa sungai di Banyumas dan Purbalingga, termasuk Sungai Serayu di Wonosobo, Jawa Tengah.       Dalam penelitian yang dilakukan sejak 2000 di Sungai Klawing, salah satu sungai di Kabupaten Purbalingga, diketahui bahwa tingkat keterancamannya cukup serius.       Berdasarkan data penelitian yang dilakukannya sejak tahun 2000-an, tidak pernah didapatkan dalam satu lokasi di sungai lebih dari 10 individu. "Jadi memang (jumlah yang bisa ditemkan) kecil sekali," katanya.       Ia memberi contoh di Sungai Klawing, paling banyak hanya bisa diperoleh tiga hingga empat ekor, itu pun untuk mendapatkan sudah susah sekali, jadi ini memang harus segera mendapat perhatian khusus untuk kita upayakan konservasi dengan budi daya," katanya menengaskan.       Menurut dia, membudidayakan ikan itu agar tidak punah, mestinya juga dilakukan oleh otoritas berwenang, seperti dinas perikanan di daerah setempat. "Balai penelitian perikanan memang ada, tapi belum mengarah ke ikan sungai, masih sebatas ikan-ikan konsumsi," katanya.       Ikan sili, selain ditangkap untuk konsumsi, juga dikenal sebagai ikan hias. Biasanya orang kalau mau pilih ikan hias itu kalau yang cantik dan bagus.       "Nah, salah satu ikan ini dijadikan ikan hias karena motifnya seperti batik berwarna coklat, dan diambil orang karena bentuknya seperti pita, itu diambil untuk dipelihara di aquarium," katanya.       Ketika ditanya apakan penurunan populasi ikan itu karena ditangkap untuk konsumsi atau kepentingan ikan hias, ia menjelaskan bahwa masyarakat menangkap ikan itu tanpa sengaja. Jika dapat, dijual ke pedagang ikan.

         Dasar berlumpur       Ia menjelaskan bahwa untuk habitat khusus, ikan ini tidak punya, dan bisa tinggal di hampir di semua sungai. Hanya saja, ikan itu lebih suka tinggal di pinggiran sungai dengan dasar yang berlumpur.       Selain itu, sungai tempat habitat ikan itu dinaungi pohon dan tidak bisa kena matahari langsung, dengan makanan utama udang.       Menurut dia, masyarakat menangkap di sungai untuk dijual atau dipelihara di akuarium. "Jadi ikan ini diambil di habitat alamnya, sehingga menimbulkan terus menurunnya populasi," kata Windiarini Lestari, doktor lulusan Universitas Goettingen, Jerman dengan spesialisasi "Nature Conservation".       Diakuinya bahwa ikan sili yang di Indonesia tercatat ada 11 species, termasuk di Pulau Jawa ada tiga species itu, juga terdapat di Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi.       "Di Jawa ada tiga species, dan di Unsoed kami hanya mendapatkan dua species, dan satu lagi hingga saat ini satu species belum ditemukan," katanya.       Ia mengatakan budi daya ikan itu di Indonesia belum berhasil, dan penelitian yang dilakukan pihaknya saat ini sedang mengarah ke penemuan cara budi daya.       "Kami sedang mencoba ke arah sana, sementara ini kami sedang belajar ekologi, yang kalau kita bilang ekologi itu adalah rumah dari ikan tersebut agar bisa diketahui tempat tinggalnya yang khas yang dia sukai, seperti berlumpur, di bawah naungan, dan agak gelap," katanya.       Menjawab pertanyaan apakah di Unsoed ada contoh untuk penelitian budi daya, ia menjelaskan bahwa penelitiannya memang harus ke sungai. "Sampat saat ini kami belum sanggup untuk budi daya," katanya.       Ia menambahkan bahwa pihaknya masih studi mengenai berapa populasi yang ada di alam. Jika jumlahnya sedikit, maka harus dicari tempat yang disukai sehingga diketahui persis.       Setelah itu, baru dibuatkan manipulasi untuk lokasi yang mirip di alam, dan setelah itu baru dipindahkan. "Setelah bisa bertahan hidup, baru kita coba untuk dikawinkan, yang mengarah ke budi daya," katanya.       Menurut dia, melalui forum ATBC 2010 itu, ia hanya ingin mengingatkan bahwa ikan-ikan sungai sudah selayaknya mendapat perhatian karena populasinya sudah menurun. Penurunan itu, baik pada spesies maupun jumlah keragamannya, terutama karena kerusakan habitat sungai akibat penggalian, pencemaran--limbah rumah tannga-- dan juga kegiatan penggalian pasir dan batu.       "Padahal tempat itu merupakan sumber utama makanan dan tempat tinggal ikan tersebut," katanya.


Editor : Ignatius Sawabi
Sumber: