Rabu, 23 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Rabu, 23 Mei 2012 | 03:58 WIB
Pengecer Elpiji Merugi
| Sabtu, 26 Juni 2010 | 14:50 WIB
|
Share:

BANTUL, KOMPAS - Tersendatnya pasokan elpiji 3 kilogram selama dua pekan terakhir membuat pengecer rugi. Dalam sehari, mereka rata-rata hanya bisa menjual delapan tabung. Untuk mendapatkan jatah itu pun, mereka harus rela mengantre berjam-jam di pangkalan agen.

Di Toko Bantul Jaya, salah satu agen di Bantul, antrean para pengecer mulai terlihat sekitar pukul 06.00. Biasanya elpiji baru datang sekitar pukul 10.00. Agar tidak ribut antarsesama pengantre, pihak agen memberikan nomor antrean.

Mulyadi, salah seorang pengecer dari Desa Palbapang, Jumat (25/6), mengatakan, meskipun harus mengantre, ia tetap sabar menunggu mobil distribusi elpiji datang. "Kalau tidak ikut antre, saya nggak bisa jualan karena elpiji pasti sudah direbutin banyak pengecer," katanya.

Meski harus antre tiga jam, ia hanya mendapatkan jatah delapan tabung. Padahal, stok tabung di toko miliknya ada 40 buah.

Biasanya ia mampu menjual sekitar 20 tabung per hari. Namun, sejak elpiji langka, ia hanya bisa menjual delapan tabung. Tiap tabung, ia mengantongi untung Rp 1.500. Kini, potensi pendapatan yang hilang tiap hari berkisar Rp 18.000.

Hal senada diungkapkan Pardiman, pengecer dari Kecamatan Pajangan. Kelangkaan elpiji tak hanya merugikan pedagang tetapi juga merepotkan konsumen.

"Banyak pembeli yang mengantre di toko kami. Biasanya jatah dari agen begitu sampai toko sudah ada yang nunggu," katanya.

Mereka berharap, pemerintah segera turun tangan. Jika tidak ada langkah penyelesaian, para pengecer mengancam akan berdemo. "Pemerintah itu maunya apa. Kami dipaksa pakai elpiji, ya, kami ikuti. Setelah diikuti, kok, jadinya seperti ini," kata Pardiman.

Tanpa penjelasan

Pengecer semakin kesal karena pemerintah tidak menjelaskan secara resmi penyebab kelangkaan. Kepastian sampai kapan pasokan bisa kembali lancar juga tidak ada. "Jadi, kami hanya menebak-nebak sendiri, kapan kelangkaan ini akan berakhir," ujarnya.

Kelangkaan elpiji juga membuat konsumen kelabakan. Mereka harus berkeliling ke beberapa toko untuk mendapatkan elpiji. Hal itu terpaksa dilakukan karena mereka sudah tidak memiliki kompor minyak lagi.

"Dulu kami dipaksa pindah ke elpiji, sekarang setelah pindah ternyata pemerintah tidak mampu menjamin kelangsungan pasokan," kata Sumarni, salah seorang konsumen elpiji. (ENY)