Rabu, 22 Oktober 2014

News / News & Features

Dampak Pemanasan Global

'Global Warming' Perparah Penyakit Infeksi

Senin, 21 Juni 2010 | 19:22 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Kuman atau mikroorganisme penyebab penyakit, seperti bakteri dan virus, telah ada sebelum dimulainya peradaban manusia. Penyakit infeksi sekarang adalah hasil evolusi dari zaman prasejarah yang disebabkan oleh kuman yang sama.

Demikian disampaikan Spesialis Mikrobiologi Klinik, Prof Dr Djoko Widodo, Senin (21/6/2010) di Universitas Indonesia, Salemba, Jakarta.

Djoko Widodo kemudian menerangkan bahwa di dunia kini ada beberapa penyakit infeksi yang menjadi perhatian, yakni malaria, AIDS, dengue, avian influenza (flu burung), dan tuberkulosis. "Pada dasarnya, antimikroba adalah solusi atas permasalahan penyakit infeksi ini. Tetapi, mikroba tetap menjadi penyebab kematian kedua di seluruh dunia, terutama negara berkembang," katanya.

Indonesia termasuk salah satu negara yang kini tengah menghadapi hal tersebut di masa depan dalam bidang penyakit infeksi. "Ada tiga hal yang menyebabkan penyakit infeksi akibat mikroba semakin berkembang, yakni resistensi antibiotik ganda, bioterorisme, dan pemanasan global," ungkapnya.

Terkait kasus resistensi antibiotik ganda, ia menjelaskan bahwa hal ini sudah alami terjadi sejak ditemukannya penisilin sebagai antimikroba pada tahun 1943. "Ketika penggunaannya mulai berlebihan, maka resistensi mikroba atau bakteri akan semakin cepat," ungkapnya.

Menurut Djoko, resistensi itu dapat disebarkan dari bakteri ke bakteri lain walaupun berbeda jenisnya. Djoko menerangkan, resistensi itu juga yang menyebabkan adanya kekebalan ganda yang menimbulkan penyakit infeksi serius.

Pemanasan global turut berperan pada peningkatan penyakit infeksi, seperti malaria, dengue, dan penyakit virus lainnya. Setiap peningkatan satu derajat celsius akan meningkatkan 50 juta kasus infeksi dengue. "Teror penyakit infeksi sudah tidak bisa dipandang sebelah mata lagi," katanya.

"Perlu adanya diagnosis yang cepat untuk menentukan terapi yang tepat," jelas Djoko. Selain itu, ia memandang perlu peningkatan pengetahuan di bidang genome agar mikro-organisme seperti bakteri dan virus dapat segera teridentifikasi yang bermanfaat bagi diagnosis penyakit.


Editor : Marcus Suprihadi