JAKARTA, KOMPAS.com — Gempa yang menerjang Turki, Senin (8/3/2010), merupakan jenis gempa yang tergolong kompleks karena jenis tumbukannya.
Kepala Pusat Gempa dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Fauzi menyatakan, sistem kegempaan di Turki tergolong kompleks, yaitu dipengaruhi oleh dua lempeng benua, yakni Arab dan Eurasia, yang mendatar dan saling bertumbukan.
Tumbukan lempeng ini tidak sampai membentuk lapisan yang terangkat hingga membentuk pegunungan, seperti Himalaya di Asia Tengah. Aktivitas kegempaan di kawasan ini, menurut Fauzi, dipengaruhi oleh gerakan lempeng Benua Afrika. Interaksi kedua lempeng itu membentuk sesar mendatar yang disebut Sesar Anatoli. Sesar ini membentang timur-barat melewati Turki bagian utara. Akibat interaksi antarlempeng itu, antara lain, timbul gempa besar pada Agustus 1999.
”Ketika itu terjadi gempa duplet, yaitu dua gempa dalam waktu beberapa jam dengan sumber gempa berbeda, bukan gempa susulan,” kata Fauzi. Salah satu gempa tersebut tercatat berkekuatan 7,4 skala Richter yang menewaskan sekitar 18.000 orang.
Sementara itu, ahli geologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia di Bandung, Dr Danny Hilman, menyebutkan, jalur gempa Turki persis berada di daerah padat penduduk, seperti gempa Bantul. Mekanisme gempanya sama dengan gempa Kerinci yang terjadi tahun lalu di Patahan Sumatera.
Seusai mengguncang kawasan di cekung Pasifik, Haiti, Cile, dan Taiwan, dalam dua bulan terakhir ini, gempa tektonik mulai mengusik daratan Eropa, yaitu di Turki. Pusat pengawasan gempa Turki menyebutkan, gempa itu berkekuatan 6,0 skala Richter, terjadi pada pukul 04.32 waktu setempat atau pukul 09.32 waktu Indonesia bagian barat.
Pusat gempanya terletak di dekat Desa Basyurt-Karakocan di Provinsi Elazig, bagian timur Turki. Provinsi itu berada sekitar 550 kilometer di timur Ankara, ibu kota Turki.
Survei Geologi AS (USGS) menyebutkan, gempa itu berkekuatan 5,9 skala Richter di kedalaman 9 kilometer, pusat gempa sekitar 43 kilometer di sebelah barat kota Bingol.
Gempa berkekuatan hampir 6,0 skala Richter itu juga dirasakan penduduk di provinsi tetangga, seperti Provinsi Tunceli, Bingol, dan Diyarbakir. Menurut data sementara yang diperoleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Indonesia, korban lebih dari 50 orang. (YUN)


