Rabu, 23 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Rabu, 23 Mei 2012 | 03:19 WIB
LAPORAN IPTEK
Korban Gempa: antara Haiti dan Cile
| Rabu, 3 Maret 2010 | 03:08 WIB
|
Share:

NINOK LEKSONO

Gempa bumi di Cile tergolong gempa besar, bermagnitudo 8,8. Mengikuti laporan dan pemberitaan media, kita melihat luas kerusakan, baik yang ditimbulkan oleh guncangan gempa maupun oleh tsunami yang menyusul. Korban yang dilaporkan sejauh ini sekitar 700 orang meninggal. Adapun rumah dan bangunan lain yang rusak dilaporkan 500.000.

Sekadar membandingkan, gempa Haiti pada 12 Januari 2010 yang berkekuatan 7,0 skala Richter menewaskan tidak kurang dari 200.000 orang. Padahal, dari sisi energi yang dilepas, gempa Cile 500 kali lebih kuat. Apakah kota Concepcion lebih aman dibandingkan dengan Port-au-Prince?

Sebelum ini, kita yang sudah sering mengalami gempa punya gambaran tentang hal itu. Bisa saja kekuatan gempa lebih besar, tetapi kalau pusat gempa atau episentrum jauh di dalam laut, efek di permukaan bisa jadi kecil. Demikian pula kalau episentrum gempa besar ada di kawasan yang langka penduduk. Faktor lain adalah kalau gempa terjadi di negara maju, di mana bangunan telah dirancang dan dipersiapkan dengan konstruksi tahan gempa. Efeknya lebih bisa dikendalikan. Sebaliknya bisa terjadi, skala gempa hanya 5,5, tetapi pusatnya di pusat kota banyak penduduk dan bangunan tidak dirancang tahan gempa, maka korban bisa sangat banyak.

Jadi, faktor perkembangan perkotaan dan penduduklah yang sebenarnya berperan besar dalam jatuhnya banyak korban. Kutipan ucapan David Wald dari United States Geological Survey di atas menguatkan hal ini.

”Megacity”

Kalau frekuensi gempa disebut tidak meningkat—rata-rata berkisar 17 gempa berkekuatan 7 atau lebih kuat terjadi setiap tahunnya—dan daya yang dilepas juga dalam ukuran yang dikenal selama ini, mengapa jumlah korban cenderung meningkat?

Rupanya, bertumbuhnya kota-kota raksasa atau megacity menjadi faktor penting. Kalau bangunan yang menjadi penyebab utama seperti telah disinggung di atas, bangunan dan perkembangan perkotaan di negara miskin kini menjadi sorotan tersendiri. Ini karena bangunan di negara miskin cenderung dibuat ala kadarnya, dirancang sekadarnya, dan dibangun menggunakan bahan-bahan lemah, yang tidak memenuhi standar bangunan dasar (Gautam Naik, The Wall Street Journal, 1/3).

Bermodal pemahaman baru inilah, kini banyak dilakukan survei pemetaan atas kota-kota dan bangunannya di dunia. Jadi, kini ada peta yang melukiskan berapa jumlah penduduk kota-kota di dunia, dan seberapa besar kemungkinannya diguncang gempa dalam 40 tahun ke depan. Dari situ diperoleh tingkat bahaya seismik untuk berbagai wilayah dan kota dunia. Seperti dimuat di harian The Washington Post (juga di Jakarta Globe, 27/28/2/10), pantai Barat Sumatera, juga di wilayah Kepala Burung Papua, masuk dalam warna merah atau berada dalam tingkat bahaya amat tinggi, sementara Pulau Sumatera dan Jawa secara umum dalam warna kuning, atau dalam risiko tinggi.

Hanya saja, meski secara alam berada di risiko tinggi, wilayah Indonesia punya sedikit saja megacity sehingga yang punya lingkaran kecil dengan tinta lemah hanya satu, yakni Jakarta, dalam kategori berpenduduk 5-9,9 juta jiwa. Kota dengan lingkaran sedang dengan penduduk 10-14,9 juta ada di Buenos Aires, Los Angeles, dan Shanghai. Adapun megacity dengan lingkaran besar bertinta tebal misalnya saja adalah New Delhi, Mumbai, New York, dan Mexico City.

Seperti diulas oleh Joel Achenbach (Washington Post/JG, 27/28/2/10), kota di AS dengan bahaya terbesar manakala ada gempa adalah New York. Kota yang juga dijuluki Big Apple ini memang jarang dikaitkan dengan gempa, tetapi wilayah di sana pernah mengalami guncangan kecil (tremor) yang mengindikasikan bahwa guncangan besar tetap merupakan hal mungkin.

Cile dan Haiti

Di luar isu megacity, bisa dikatakan pula, bahwa pusat gempa di Haiti kebetulan ada di dekat ibu kota Port-au-Prince. Episenter Cile juga tiga kali lebih dalam dibandingkan dengan Haiti, yakni 35 kilometer dibandingkan dengan 13 km. Faktor lain yang dicatat adalah Cile sudah ”lebih berpengalaman” menghadapi gempa dibandingkan dengan Haiti. Sebagai salah satu negara yang berada di Cincin Api, Cile bisa dikatakan memiliki wawasan gempa. Dapat dicatat bahwa gempa dengan magnitudo paling tinggi pernah terjadi di Cile, yakni dengan skala 9,5 pada tahun 1960. Dengan latar belakang itu, Gautam Naik menulis, Cile sudah menerapkan standar ketat persyaratan pembangunan gedung.

Haiti juga punya tantangan seismik sendiri, tetapi dibandingkan dengan Cile yang ada di Cincin Api, tantangan Cile memang lebih besar. Ancaman aftershock—yang ada di sepanjang garis patahan—lebih besar di Cile karena zona aftershock di negara ini lebih panjang (600 km) dibandingkan dengan zona aftershock Haiti yang 60 km.

Pelajaran baru

Studi geologi terus berlangsung, menghasilkan pemahaman lebih mendalam tentang dinamika lempeng tektonik yang memicu gempa. Memang masih ada pekerjaan besar, yaitu untuk menjawab pertanyaan, ”Dapatkah geologi meramalkan terjadinya gempa bumi?” Secara umum bisa dikatakan Ilmu Geologi sudah maju pesat.

Namun, di luar itu, orang juga risau dengan korban dalam bencana gempa. Di sini, rupanya juga muncul wawasan baru bahwa tren membesarnya kota memiliki konsekuensi tersendiri terkait dengan potensi gempa. Dari sini kita teringat lagi pada urusan yang belum kita selesaikan, yakni menyangkut tata ruang.

Sebagaimana kita usulkan untuk kepentingan mengantisipasi bencana banjir dan tanah longsor, untuk gempa bumi pun konsep tata ruang amat relevan. Kita berharap, berdasarkan pengetahuan tata ruang yang kita susun secara ilmiah, tidak ada lagi pertumbuhan perkotaan yang mengarah pada megacity di wilayah rawan gempa.

Dengan mengikuti konsep seperti itulah, Indonesia diharapkan juga dapat meminimalkan korban manakala gempa terjadi. Megacity selain memunculkan problem sosial, ekonomi, dan lingkungan, rupanya juga memunculkan efek berbahaya dalam kaitannya dengan gempa bumi. Inilah kearifan baru.