NINOK LEKSONO
Gempa bumi di Cile tergolong gempa besar, bermagnitudo 8,8. Mengikuti laporan dan pemberitaan media, kita melihat luas kerusakan, baik yang ditimbulkan oleh guncangan gempa maupun oleh tsunami yang menyusul. Korban yang dilaporkan sejauh ini sekitar 700 orang meninggal. Adapun rumah dan bangunan lain yang rusak dilaporkan 500.000.
Sekadar membandingkan, gempa Haiti pada 12 Januari 2010 yang berkekuatan 7,0 skala Richter menewaskan tidak kurang dari 200.000 orang. Padahal, dari sisi energi yang dilepas, gempa Cile 500 kali lebih kuat. Apakah kota Concepcion lebih aman dibandingkan dengan Port-au-Prince?
Sebelum ini, kita yang sudah sering mengalami gempa punya gambaran tentang hal itu. Bisa saja kekuatan gempa lebih besar, tetapi kalau pusat gempa atau episentrum jauh di dalam laut, efek di permukaan bisa jadi kecil. Demikian pula kalau episentrum gempa besar ada di kawasan yang langka penduduk. Faktor lain adalah kalau gempa terjadi di negara maju, di mana bangunan telah dirancang dan dipersiapkan dengan konstruksi tahan gempa. Efeknya lebih bisa dikendalikan. Sebaliknya bisa terjadi, skala gempa hanya 5,5, tetapi pusatnya di pusat kota banyak penduduk dan bangunan tidak dirancang tahan gempa, maka korban bisa sangat banyak.
Jadi, faktor perkembangan perkotaan dan penduduklah yang sebenarnya berperan besar dalam jatuhnya banyak korban. Kutipan ucapan David Wald dari United States Geological Survey di atas menguatkan hal ini.
Kalau frekuensi gempa disebut tidak meningkat—rata-rata berkisar 17 gempa berkekuatan 7 atau lebih kuat terjadi setiap tahunnya—dan daya yang dilepas juga dalam ukuran yang dikenal selama ini, mengapa jumlah korban cenderung meningkat?
Rupanya, bertumbuhnya kota-kota raksasa atau
Bermodal pemahaman baru inilah, kini banyak dilakukan survei pemetaan atas kota-kota dan bangunannya di dunia. Jadi, kini ada peta yang melukiskan berapa jumlah penduduk kota-kota di dunia, dan seberapa besar kemungkinannya diguncang gempa dalam 40 tahun ke depan. Dari situ diperoleh tingkat bahaya seismik untuk berbagai wilayah dan kota dunia. Seperti dimuat di harian
Hanya saja, meski secara alam berada di risiko tinggi, wilayah Indonesia punya sedikit saja
Seperti diulas oleh Joel Achenbach (
Di luar isu
Haiti juga punya tantangan seismik sendiri, tetapi dibandingkan dengan Cile yang ada di Cincin Api, tantangan Cile memang lebih besar. Ancaman
Studi geologi terus berlangsung, menghasilkan pemahaman lebih mendalam tentang dinamika lempeng tektonik yang memicu gempa. Memang masih ada pekerjaan besar, yaitu untuk menjawab pertanyaan, ”Dapatkah geologi meramalkan terjadinya gempa bumi?” Secara umum bisa dikatakan Ilmu Geologi sudah maju pesat.
Namun, di luar itu, orang juga risau dengan korban dalam bencana gempa. Di sini, rupanya juga muncul wawasan baru bahwa tren membesarnya kota memiliki konsekuensi tersendiri terkait dengan potensi gempa. Dari sini kita teringat lagi pada urusan yang belum kita selesaikan, yakni menyangkut tata ruang.
Sebagaimana kita usulkan untuk kepentingan mengantisipasi bencana banjir dan tanah longsor, untuk gempa bumi pun konsep tata ruang amat relevan. Kita berharap, berdasarkan pengetahuan tata ruang yang kita susun secara ilmiah, tidak ada lagi pertumbuhan perkotaan yang mengarah pada
Dengan mengikuti konsep seperti itulah, Indonesia diharapkan juga dapat meminimalkan korban manakala gempa terjadi.
