Jumat, 25 April 2014

News /

Budaya, Solusi Konflik Sosial

Sabtu, 27 Februari 2010 | 10:22 WIB

Baca juga

Yogyakarta, Kompas - Pendekatan budaya harus menjadi solusi utama bagi penyelesaian konflik sosial. Budaya bersifat aktual dan aktif sebagai proses penataan sosial, ekonomi, politik, dan teknologi. Selama ini, budaya cenderung diposisikan sebagai latar belakang dalam wacana serta praktik kenegaraan dan kemasyarakatan.

"Ketika kita jenuh menjalani hidup, jalan yang bijak adalah menyelam ke danau kebudayaan. Pendekatan kultural sesungguhnya adalah mediasi kemanusiaan yang bersumber hati nurani guna tercapainya perdamaian yang berkelanjutan," ujar Gubernur DIY Sultan Hamengku Buwono X dalam pembukaan Pekan Apresiasi Lintas Iman, Kamis (25/2).

Pekan Apresiasi Lintas Iman dengan tema "Mewujudkan Peradaban Spiritual Multikultur" ini digelar sebagai peringatan Hari Jadi Forum Persaudaraan Umat Beriman (FPUB) yang Ke-13 di Yogyakarta. Sultan berharap, FPUB terus memerankan diri dalam upaya harmonisasi hubungan lintas iman yang bermartabat di Yogyakarta.

Selama ini, FPUB telah menjadi ikon dialog multikultur sekaligus menjadi wacana alternatif untuk pengentalan pemahaman. Tantangan terbesar FPUB saat ini adalah kuatnya radikalisme subyektif

keagamaan. "Ketika kebudayaan menjadi komoditas, kami bertumpu pada kekuatan spiritualitas," kata KH Abdul Muhaimin, pengurus FPUB.

Dialog budaya untuk penyelesaian konflik, apalagi yang bernuansa agama, ujar Sultan, memang membutuhkan kesabaran, konsistensi, dan dukungan energi dari berbagai gerakan perdamaian. Sebagai pengurus FPUB, misalnya, Muhaimin mengaku sering kali mendapat kecaman dan dianggap kafir karena bergaul dalam komunitas lintas iman.

Keberagaman iman

Menurut Koordinator Umum Kegiatan Y Suyatno Hadi Atmaja Pr, peringatan hari jadi ini sekaligus menjadi sarana pengenalan keberagaman iman. Selain menggelar pameran alat religi atau simbol budaya, umat lintas iman seperti kepercayaan Sunda Wiwitan, Yayasan Hondodento, Paraloyo Gunungpring, dan Ahmadiyah turut terlibat dalam pawai budaya Nusantara yang digelar di jalan Kota Yogyakarta.

Sultan mengatakan, konflik bukan sesuatu yang dapat dihindari atau disembunyikan, tetapi harus diakui keberadaannya, dikelola, dan diubah menjadi kekuatan bagi perubahan positif masyarakat ke arah perdamaian berkelanjutan. Keragaman budaya seharusnya dipandang sebagai modal bangsa.

"Komunikasi dalam wujud persentuhan dan interaksi lintas budaya harus diusahakan agar melahirkan sintesa budaya yang lebih bermutu, bukan konflik," katanya.

Intensitas dan persebaran konflik sosial cenderung menguat sejalan aneka konflik yang dihembuskan media massa. Padahal, pola solusi konflik di suatu daerah, menurut Sultan, unik sesuai keragaman budaya dan kearifan lokal dalam menyikapi konflik. (WKM)


Editor :