Selasa, 22 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Selasa, 22 Mei 2012 | 06:12 WIB
Good Bye, Kopenhagen!
Inggried Dwi Wedhaswary | msh | Jumat, 18 Desember 2009 | 20:08 WIB
|
Share:

Inggried Dwi W
Hari terakhir di Kopenhagen, Kamis (17/12), para delagasi muda iklim asal Indonesia mengikuti youth debate dan The Greatest Debate on Earth yang diadakan oleh BBC World Service. Debat menghadirkan sejumlah kepala negara diantaranya PM Australia Kevin Rudd dan Presiden Meksiko Felipe Calderon.

TERKAIT:

KOPENHAGEN, KOMPAS.com- Tepat di hari berakhirnya Konferensi Perubahan Iklim PBB, Jumat (18/12), perjalanan saya bersama climate champions British Council, Goris Mustaqim, juga berakhir. Sore ini, pukul 17.30 waktu Denmark, kami akan bertolak menuju Jakarta melalui Copenhagen International Airport.

Sayang, dua hari menjelang berakhirnya konferensi, kami tak bisa mendapatkan akses masuk ke lokasi karena adanya pembatasan oleh UNFCCC. Namun, hasil akhir dari konferensi perubahan iklim ini masih terus dinanti. Semoga sesuai dengan pesan yang dibawa Goris, "From Bali to Copenhagen", di mana hasil pertemuan kali ini sesuai dengan mandat Bali Roadmap.

Hari terakhir beraktifitas, Kamis kemarin, seluruh delegasi climate champions British Council menghabiskan hari dengan mengikuti dua debat. Pertama, youth debate, yang diikuti oleh para perwakilan generasi muda di COP15. Temanya adalah demokrasi dan perubahan iklim.

Ada yang berpendapat bahwa proses yang berlangsung di Kopenhagen tidak demokratis. Proses yang tidak demokratis, dinilai wakil dari Bangladesh, menyebabkan sulitnya tercapai kata sepakat antara dua kubu, negara maju dan berkembang.

Pendapat lain yang mengemuka, untuk menghadapi dampak perubahan iklim, tak perlu tergantung pada sistem. Aksi individual dinilai akan efektif jika dilakukan secara global. Akan tetapi, secara keseluruhan, ada kesepakatan bahwa untuk menyusun langkah bersama dibutuhkan komitmen internasional yang mengikat.

Para delegasi muda ini juga berharap, dalam proses perundingan, suara kaum muda juga didengarkan. Sebab, kelanjutan bumi ini ada di tangan mereka. Debat ini akan disiarkan oleh BBC World Service.

Debat kedua, menyaksikan "The Greatest Debate on Earth "yang juga diadakan oleh BBC. Para kepala negara yang hadir di antaranya PM Australia Kevin Rudd, Presiden Meksiko Felipe Calderon dan Presiden Maladewa, Mohammad Nasheed.

Dari pernyataan-pernyataan yang dilontarkan terlihat jelas masih adanya pertentangan antara negara maju dan berkembang terkait kewajiban menekan laju emisi seperti dimandatkan Protokol Kyoto. Maka tak heran, kesepakatan Kopenhagen sepertinya jauh dari harapan.

Selama hampir dua minggu perjalanan mengikuti konferensi banyak hal yang didapatkan. Bagi Goris yang mengembangkan sayap bisnis ramah lingkungannya bertemu dengan banyak orang tentunya akan membuka peluang yang lebih besar untuk ke depannya. Harapannya, akan ada jaringan anak muda internasional yang melakukan aksi bersama untuk menghadapi dampak perubahan iklim.

Sedangkan saya, berusaha menuliskan hal-hal baik yang dijumpai di negeri Hans Christian Andersen ini. Tentunya, dengan harapan bisa juga menjadi inspirasi bagi kemajuan Indonesia.

Bertemu dengan banyak orang dari seluruh dunia juga membuka mata bahwa bumi ini butuh diselamatkan bersama. Sembari menunggu hasil pertemuan Kopenhagen, masih bolehlah berharap adanya kesepakatan yang menggembirakan bagi semua pihak. Jika tidak, Kopenhagen tampaknya akan gagal menjadi "Hopenhagen" seperti yang didengungkan selama konferensi. Good Bye, Kopenhagen!