Selasa, 22 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Selasa, 22 Mei 2012 | 06:02 WIB
Presiden COP15 Diganti, Jangan Hilangkan Hasil Perundingan
| tof | Kamis, 17 Desember 2009 | 06:14 WIB
|
Share:

KOPENHAGEN, KOMPAS.com — Ketua Delegasi RI (Delri) Rachmat Witoelar meminta kepada Perdana Menteri Denmark yang saat ini menjadi Presiden COP15 agar tidak menghilangkan hasil perundingan KTT (COP) ke-15 Perubahan Iklim UNFCCC di Kopenhagen yang telah berjalan lebih dari seminggu.

"Kalaupun ada pergantian, apa yang telah dihasilkan (selama COP15 berlangsung) agar dihormati dan dijadikan bahan kelanjutan persidangan oleh siapa pun pimpinan sidangnya," katanya saat bertemu dengan wartawan Indonesia di sela-sela konferensi di Kopenhagen, Rabu.

Racmat menyatakan hal tersebut menanggapi digantinya Presiden COP15 Connie Hadegaard oleh Perdana Menteri Denmark Lars Lokke Rasmussen yang akan memimpin pertemuan tingkat tinggi kepala negara dan kepala pemerintahan pada COP15 mulai Rabu.

Pergantian pimpinan sidang tersebut, menurut Rachmat, dimungkinkan oleh aturan penyelenggaraan di mana KTT itu berlangsung. "Apakah pergantian itu dianggap sah, itu terserah negara peserta KTT melihatnya," lanjutnya.
     
Rachmat menyatakan, dirinya sebenarnya tidak setuju dengan pergantian tersebut. Mantan Menteri Negara Lingkungan Hidup itu melihat kepemimpinan Connie dengan telah melakukan perundingan selama empat kali sebelum dimulainya KTT di Kopenhagen telah membuka kemungkinan hasil perundingan yang menguntungkan negara berkembang.

"Di tengah jalan, pimpinan negaranya (Denmark) tidak berkenan dan membuat forum baru. Kemudian dia diganti dan dicopot menjadi menteri Presiden COP15," katanya.

Rachmat menduga PM Denmark ingin cepat-cepat menyelesaikan KTT Kopenhagen dengan cara yang lain, yaitu dengan menyodorkan proposal hasil keputusan COP15 yang ditawarkan Denmark. "Presiden baru COP yang juga Perdana Menteri Denmark mempunyai pikiran-pikiran yang agak lain walaupun saya tidak tahu apakah itu prinsipil atau tidak," katanya.

Melihat gelagat negara-negara berkembang tidak setuju dengan pergantian Presiden COP tersebut, Rachmat mengatakan, Denmark meminta beberapa delegasi, termasuk Indonesia, untuk bertemu secara bilateral dengan mereka.

"Kalau saya melihat demi kebaikan COP, maka saya mau bertemu secara bilateral. Saya akan tagih janji itu," tegas Rachmat.

Sebelumnya, Perdana Menteri Denmark Lars Lokke Rasmussen mengatakan, dirinya menggantikan posisi Connie Hadegaard sebagai Presiden COP15 yang memimpin persidangan tingkat kepala negara dan kepala pemerintahan.

Lars beralasan, penggantian tersebut karena bakal ada 115 kepala negara dan kepala pemerintahan yang telah memutuskan untuk berpartisipasi dalam COP15 pada pertemuan tingkat tinggi untuk membuat sebuah keputusan di Kopenhagen.

"Perundingan akhir akan menjadi menegangkan dan berat. Oleh karena itu, saya meminta kepada Menteri Connie Hedegaard (Presiden COP15) untuk melanjutkan negosiasi di keputusan Kopenhagan bersama dengan kolega-koleganya," kata Lars.

Perdana Menteri Denmark menunjuk Menteri Connie Hedegaard sebagai perwakilan khususnya, dan oleh karena itu Connie melanjutkan memimpin pertemuan konsultasi informal untuk membahas hasil keputusan Kopenhagen. "Dengan begitu banyaknya kepala negara dan kepala pemerintahan yang datang untuk memberikan pernyataannya, maka akan sesuai bila Perdana Menteri Denmark akan memimpin persidangan," kata Connie.

Sumber :
ANT