Selasa, 22 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Selasa, 22 Mei 2012 | 05:46 WIB
Jauh-jauh ke Kopenhagen, Ketemunya "Pelat AB" Juga...
Inggried Dwi Wedhaswary | wsn | Senin, 7 Desember 2009 | 12:35 WIB
|
Share:

KOMPAS IMAGES/INGGRIED DWI WEDHASWARY
Delegasi Indonesia yang mengikuti Conference of the Youth di COP15

TERKAIT:

KOPENHAGEN, KOMPAS.com — Setibanya di Central Station, Kopenhagen, Minggu (6/12) dini hari, Goris dan saya ditampung menginap di rumah pendiri Eco-Security Singapura, Wilson Ang. Di rumah yang terletak di kawasan Helerup itu sudah berkumpul rombongan Eco-Security Singapura serta climate champions asal Singapura, Vietnam, dan Jepang. Jumlah perwakilan dari negara-negara itu cukup banyak, setidaknya lebih dari 4 orang.

Hal yang membuat saya terkejut adalah pertemuan dengan dua teman berkulit sawo matang yang ternyata dari Indonesia juga. Siapa sangka, jauh-jauh ke Kopenhagen, saya berkumpul dengan teman yang sama-sama "pelat AB" alias berkampung halaman Yogyakarta. Tanpa bermaksud orientasi kedaerahan, pertemuan dengan climate champions Indonesia, Ibnu Najib dan Dian Elvira Rosa, peneliti London School of Economics (LSE) membuat bengong orang-orang lain karena kami langsung "berbahasa planet" alias bahasa Jawa.

Najib, yang ditugaskan British Council mengorganisasikan delegasi dari berbagai negara, tengah menyelesaikan pendidikan pasca-sarjananya di Edinburgh University, Inggris. Sementara itu, Dian masih aktif sebagai peneliti London School of Economics baru menyelesaikan pendidikan pasca-sarjananya di St Andrew University, Skotlandia.

"Wah, akhirnya rame juga euy dari Indonesia. Kemarin cuma berdua, sekarang lumayan ada empat orang, agak ramean. Nanti kita masak tempe ya," kata Goris yang mulai merindukan masakan Indonesia, meski baru beberapa hari meninggalkan Tanah Air. Maklum saja, makanan ala Eropa sering tidak cocok dengan lidah orang Indonesia.

Hari pertama di Kopenhagen, langsung digunakan untuk mengurus keperluan administrasi dan registrasi ID peserta COP15. Selain itu, ada agenda wajib yang harus diikuti, yaitu menghadiri Conference of the Youth (COY). Konferensi ini berisi berbagai lokakarya dan diskusi mengenai berbagai topik yang berkaitan dengan COP15.

Antrean panjang dan ketatnya screening orang-orang yang masuk membuat proses memakan waktu cukup lama. Sembari menunggu, delegasi dari berbagai negara memanfaatkannya untuk mengabadikan foto di welcoming board COP15. Tak mau ketinggalan, Goris, saya, Najib, dan Dian ikut minta diabadikan.

Masing-masing memiliki ketertarikan sendiri dalam mengikuti konferensi ini. Najib tertarik sektor kebijakan, Dian ingin mendalami konsep REDD, sementara Goris berencana mengikuti diskusi dan lokakarya yang berkaitan dengan bisnis ramah lingkungan. Saya sendiri dalam hal raising public awareness dan kebijakan pemerintahan. Pasca-COP15, komunikasi diharapkan akan tetap berlanjut untuk saling bertukar informasi mengenai upaya mitigasi di Tanah Air.

Setelah urusan ID beres, kami menuju Copenhagen University, tempat COY berlangsung. Di sini, para delegasi berdiskusi dengan peserta yang berasal dari regional wilayah negara yang sama. Indonesia masuk kelompok East Asia bersama Malaysia, Vietnam, Singapura, Korea, Jepang, Myanmar, Filipina, dan lain-lain. Hasilnya, persoalan yang dihadapi relatif sama, yaitu minimnya good will dari pemerintah yang dinilai belum serius menyiapkan kerangka menghadapi dampak perubahan iklim. Akan tetapi, disepakati perlunya jaringan kaum muda untuk saling berkomunikasi dalam hal upaya mitigasi di negara masing-masing.