BANDARLAMPUNG, KOMPAS.com--Sebagian warga Kota Bandarlampung meyakini Film 2012 hanyalah hasil kreativitas sutradara yang memiliki imajinasi tinggi untuk menciptakan seni perfilman.
"Film 2012 hanya gambaran bencana alam yang akhir-akhir ini sering terjadi, bukanlah karena kiamat yang akan melanda dunia pada tahun 2012," ujar Jonatan (25), warga Tanjung Senang, di Bandarlampung, Senin.
Ia mengatakan, beredarnya kabar kiamat yang akan melanda dunia tahun 2012 hanyalah isu belaka, sedangkan film ini hanyalah khayalan dan hasil seni sang sutradara.
Pendapat yang sama diungkapkan oleh Johan, warga Pramuka, bahwa sebagai orang yang beriman dan memiliki kepercayaan, hari kiamat adalah akhir dari dunia dan tidak ada lagi manusia yang hidup setelah terjadi kiamat.
"Film ini mempertontonkan visual efek yang sangat canggih sehingga kita dapat begitu merasakan kejadian-kejadian yang tampak nyata di hadapan kita," ujar dia.
Hal senada dikatakan warga Teluk Betung, Ferdinand, bahwa hasil seni kreativitas seseorang tidaklah menjadi patokan terjadinya kiamat.
"Sepengetahuan saya, kalau kiamat tidak ada lagi manusia yang hidup, tetapi di film ini masih terdapat sekelompok besar manusia yang selamat dari bencana tersebut, jadi itu hanyalah kiamat kecil," ujarnya.
Hal serupa juga dikatakan oleh Ridwan, warga Kota baru. Menurut dia, dengan menonton film ini ’kita’ dapat lebih mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
"Seni pembuatan film yang sangat canggih sehingga orang yang menonton film tersebut dapat merasakan kejadian tampak nyata," kata dia.
Sebagian warga hanya menganggap Film 2012 hanyalah hasil karya yang menggunakan teknologi canggih, sehingga banyak warga yang merasakan kejadian tampak nyata dirasakan oleh penontonnya.
Sementara itu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Bandarlampung tidak menyarankan untuk menonton Film 2012 yang marak beredar di Kota Bandarlampung.
