JAKARTA, KOMPAS.com - Sampai ini sudah banyak masyarakat di Indonesia yang memanfaatkan teknologi nano (nanotechnology), namun tidak memahami apa sebenarnya teknologi nano. Karena itu, sosialisasi teknologi nano akan terus dikembangkan agar teknologi nano bisa menjadi isu nasional.
Hal tersebut diungkapkan Chairman of Indonesian Society for Nano Technology Nurul Taufiqu Rochman ditemui di sela-sela acara The 2nd International Conference on Advanced Material and Practical Nanotechnology, di Jakarta, Rabu (11/11).
Di Indonesia sendiri perkembangan nano baru berkembang sekitar 20 tahun belakangan. Indonesia mempunyai potensi yang besar untuk perkembangan nano karena potensi kekayaan alamnya yang besar.
"Saat ini nano belum menjadi isu nasional, yang penting sosialisasi kepada industri-industri yang juga melibatkan stakeholder," ungkap Nurul
Teknologi nano memiliki kemampuan merekayasa material sedemikian rupa sehingga menjadi lebih efektif, efisien, dan berdaya guna. Aplikasi material nano telah merambah ke berbagai industri tidak hanya industri yang berteknologi tinggi, tetapi juga industri-industri lain seperti obat-obatan, pangan, farmasi, keramik, kimia, dan tekstil.
Masyarakat Nanoteknologi Indonesia dan Kementerian Negara Riset dan Teknologi memberikan apresiasi kepada berbagai pihak yang intensif mengembangkan, mempublikasikan, dan memfasilitasi isu-isu nano di Indonesia. Pemberian Nano Award akan diselenggarakan besok, Kamis (12/11) yang akan diberikan kepada Peneliti, Kementerian Lembaga Riset Dasar, Kementerian Lembaga Riset Terapan, Perguruan Tinggi, Media, dan Industri.
Indonesia akan terus mengejar perkembangan nano. Nano menjadi tantangan bagi kreativitas peneliti kita. Faktor dana sendiri diakui Nurul penting untuk mengakselerasi hal tersebut. "Kalau dana ada, saya yakin ini akan berjalan," tambah Nurul.