Sabtu, 25 Oktober 2014

News / Bisnis & Keuangan

Adi Kharisma, Pencipta Olahan Ubi Ungu

Minggu, 1 November 2009 | 15:03 WIB

KOMPAS.com — Kesehatan itu mahal harganya. Slogan inilah yang membuat Adi Kharisma mengubah jalan hidupnya dari seorang pengusaha ritel sukses beromzet miliaran rupiah menjadi seorang penjual aneka makanan dan minuman dari ubi ungu. Dalam dunia pangan lokal, nama Adi Kharisma sudah cukup terkenal. Pria asli Bali ini sukses memperkenalkan nasi dan es krim dari ubi jalar sebagai salah satu kekuatan makanan lokal sekaligus sebagai produk makanan yang sehat.

Gara-gara inovasi produk dari ubi jalarnya ini, Adi Kharisma memperoleh penghargaan dari Dewan Pangan Italia. Tak hanya itu, sebagai duta pangan lokal, Adi juga sudah menyambangi Jepang dan Fiji untuk mempresentasikan produk jus dan sirup ubi ungunya.

Adi sendiri tak menyangka prestasinya bakal sebesar itu. Sebab, inovasi produk pangannya ini lahir dari ketakutannya terhadap kanker. Sampai tahun 1995, ada tujuh kerabat Adi termasuk ibu, paman, mertua serta kakaknya yang terkena penyakit kanker.

Karena dekat dengan orang-orang tersebut, Adi pun turut menyaksikan melihat pola makan mereka. “Ternyata pola makan yang salah merupakan penyebab terbesar terjadinya kanker,” ujar pria 50 tahun ini.

Adi pun kemudian banyak membaca buku-buku kesehatan. Ia tak ingin istri dan anaknya ikut menjadi korban. Maka, lima tahun berselang, Adi masih berkutat mempelajari aneka macam bahan makanan yang bisa memerangi kanker.

Tahun 2000, Adi menemukan resep diet dengan menjalankan pola makan sehat. Ia mulai menjauhi aneka sea food, daging merah serta memperbanyak sayur dan buah. “Daging yang saya makan hanya daging ayam dan ikan,” ujarnya. Pengaruh bagi kesehatan Adi sangat signifikan. “Sampai sekarang, pilek pun saya tak pernah,” ujar pria berperawakan tinggi besar ini.

Karena yakin dengan hasil dietnya ini, Adi pun kemudian mencoba merambah bisnis virgin coconut oil (VCO) sejak tahun 2004. Sayang, bisnis minyak kelapa itu kandas di tengah jalan. Padahal, Adi sudah menggelontorkan uang Rp 100 juta-an untuk mempelajari aneka hal tentang budidaya kelapa dan pengolahannya. “Para petani hanya mau menjual kelapa. Tidak mau dibina untuk memanfaatkan sabut, batok, air serta daging kelapanya,” keluh anak ketujuh dari sembilan bersaudara ini.

Namun, pada tahun tersebut, usaha Adi yang lain sangat sukses. Bisnis distribusi makanan dan minumannya menyumbang duit Rp 1,5 miliar per bulan ke kantongnya. Belum lagi pemasukan dari 10 convenient mart, empat gerai warung soto, serta satu gerai waralaba Subway Sandwich di Australia.

Gagal menjalani bisnis kelapa, Adi pun banting setir melirik ubi jalar ungu. Pasalnya, makanan yang berwarna ungu, hitam atau kemerahan mengandung zat antosianin yang ampuh memerangi kanker. Karena itu, sejak tahun 2006, Adi fokus menggeluti usaha pengolahan makanan dari ubi jalar ungu.

Saat ini Adi mengelola dua gerai penjualan produk makanan dari ubi jalar di Bali dan di Jakarta dengan omzet sekitar Rp 50 juta sebulan. Satu per satu bisnisnya yang lain pun ia lepas. “Untuk distribusi barang, saat ini dipegang istri saya,” ujarnya. Sementara convenient mart, warung soto, serta gerai waralaba Subway Sandwich-nya sudah sudah ia lepas.

Beralih ke bisnis kuliner ubi jalar

Gagal mengembangkan bisnis kelapa, Adi Kharisma beralih ke bisnis kuliner ubi jalar. Di bisnis barunya ini, Adi sukses mengembangkan aneka makanan dari ubi, terutama ubi ungu. Namun, ia harus bersaing ketat dengan para pesaingnya.

Kegagalan bisnis kelapa yang pernah dijalaninya membuat Adi Kharisma memetik pelajaran berharga. Salah satunya, ia merasa harus berubah dan berani keluar dari zona nyamannya. Apalagi, menurut Adi, dari seluruh jumlah manusia di bumi ini, hanya 20 persen yang ingin dan berani melakukan perubahan itu.

Tak mau tenggelam dalam kegagalannya, pria kelahiran Bali 50 tahun silam ini kemudian mengalihkan bisnisnya ke pengolahan aneka umbi-umbian. Untuk memulai usaha ini, masalah yang pertama-tama ia hadapi adalah pasokan bahan baku. Untuk mengatasinya, Adi berencana bekerja sama dengan para petani di Yogyakarta.

Ada alasan mengapa ia membidik petani-petani di Kota Gudeg itu. Menurut Adi, selama ini produksi umbi-umbian dari Yogyakarta cukup besar. Misalnya saja umbi yang lazim dikenal dengan nama gembili.

“Namun sayang, penanaman umbinya lama, bisa sampai delapan bulan,” kata Adi. Karena itu, akhirnya ia memilih mengolah ubi jalar. Sebab, selain sudah banyak ditanam, ubi ini juga mudah dibudidayakan.

Ada alasan penting lain mengapa ia akhirnya memilih ubi jalar, yaitu karena ubi jalar mengandung banyak zat antosianin yang bisa mencegah kanker. “Antosianin itu berguna untuk mengencerkan darah yang kental serta menyerap racun dan polusi di darah,” ujarnya.

Namun, hingga sekarang ini Adi masih mengandalkan pasokan ubi jalar dari beberapa petani lokal di Bali. Selain itu, ia juga memiliki kebun sendiri seluas 1,5 hektare “Saat ini dalam sebulan saya butuh lebih dari tiga ton ubi jalar,” ujarnya.

Sebelum memulai bisnisnya, Adi mengaku melakukan eksperimen sendiri selama enam bulan. “Selama itu, saya makan semua hasil eksperimen saya,” kenangnya sembari tertawa. Produk pertamanya yang keluar adalah nasi ubi ungu, lalu disusul dengan es krim ubi ungu dan brownies ubi ungu.

Ada pula pebisnis lain yang membuat olahan ubi ungu ini dan menjadi pesaing Adi. Pebisnis tersebut, antara lain, ada di Malang. Di kota tersebut sudah ada dua toko yang menjual aneka olahan ubi ungu. Itu sebabnya, setelah Pulau Bali, ia lebih memilih merambah Jakarta daripada merambah pasar di dekat Bali.

Selain itu, untuk menyiasati persaingan, Adi kemudian membuat produk ubi jalar dari empat warna ubi jalar yang ada, yaitu ungu, putih, kuning, dan oranye. “Dengan begitu saya jadi produsen makanan dari ubi yang pertama mengolah ubi empat warna,” ujarnya senang.

Ketika meritis pasar di Bali, Adi memakai toko warisan keluarga yang ada di Jalan Teuku Umar, Denpasar, untuk menjajakan aneka produk makanannya. Namanya Warung Sela Boga.

Namun, tempat yang dulunya merupakan pusat jajanan itu ternyata tidak cukup ramai. Adi hanya mengantongi omzet Rp 30 juta-Rp 50 juta setiap bulannya. Maka dari itu, tahun 2008 silam, Adi merambah Jakarta dan mendirikan warung di daerah Bintaro Sektor 1, Jakarta Selatan. Ia menyewa warung kecil dengan tarif Rp 1,5 juta per bulan.

Bersaing ketat dengan Burger Blenger

Menembus pasar Jakarta ternyata tak mudah. Adi Kharisma harus bersaing ketat dengan gerai makanan lain, salah satunya Burger Blenger yang juga membuka gerai di D’Hoek Bintaro. Ia pun berusaha mencari cara membesarkan usahanya, salah satunya dengan waralaba.

Ketika pertama kali merambah Jakarta pada awal 2008, Adi membayangkan ia bakal sukses dengan gampang. Soalnya di mana-mana orang pasti perlu makanan. Tetapi menembus pasar Jakarta ternyata tak semudah perkiraannya. Dia harus berjuang keras agar mampu bersaing dengan pengusaha lain. “Di Jakarta, saya bagaikan terjun ke hutan belantara,” ujar lelaki berusia 50 tahun ini.

Selama delapan bulan pertama, Adi sempat kepayahan mencari tempat berjualan. Sampai akhirnya dia mendapatkan sebuah gerai di D’Hoek Bintaro sektor 1. Untuk menempati tempat tersebut, Adi harus membayar uang sewa Rp 1,5 juta per bulan. “Tempat itu saya namakan Sweet Purple, artinya warna ungu yang cantik,” ujarnya.

Seperti gerainya di Bali, di gerai barunya yang berada di Jakarta, Adi juga menjual olahan ubi ungu. Namun, belakangan dia memperbanyak jenis produk olahan ubi. Misalnya saja, ia membuat burger es krim ubi ungu dengan roti burger. Adi menjual burger es krim tersebut dengan harga Rp 12.000 per buah. “Roti burgernya juga dibuat dari ubi, lo,” ujar Adi berpromosi.

Ia juga membuat jus ubi ungu yang ia jual dengan harga Rp 11.000 hingga Rp 17.000 per gelas. Kreasi lainnya adalah brownies ubi ungu yang ia jual dengan harga Rp 35.000 per 250 gram, dan pia ubi ungu seharga Rp 17.000 per kotak isi enam buah.

Untuk pesanan khusus, Adi juga membuat nasi ubi ungu. Harganya Rp 17.000 per kotak, sudah termasuk empat tusuk sate ayam lilit. “Dari harga jual ini, secara eceran saya mendapat margin sekitar 30 persen,” ujar Adi.

Tentu Adi punya alasan memperbanyak produk di gerainya di Jakarta. “Kalau menu tidak banyak, pembeli bakal cepat bosan,” kata Adi. Apalagi, persaingan antara sesama pedagang makanan di D’Hoek Bintaro sangat ketat. Salah satu rival terberatnya adalah Burger Blenger. Akibat persaingan yang sengit itu, omzet Sweet Purple hanya sekitar Rp 20 juta sebulan.

Untuk meningkatkan omzetnya, Adi pun rajin mengikuti pameran. “Lumayan, dalam sebulan ada satu atau dua pameran,” ujarnya. Dari setiap pameran, dia bisa mencetak laba bersih Rp 1 juta.

Adi juga sempat membuka cabang-cabang baru. Di antaranya di Police Academy, Ancol, dan di Pasar Pagi. Tapi gerai-gerai baru itu hanya ramai di akhir pekan. “Penjualan kurang bagus dan saya tutup,” ujarnya.

Sejak dua pekan lalu, dia pun memindahkan gerainya ke Summarecon Serpong dan ke Lippo Karawaci. Sebelumnya, Adi sudah lebih dulu memindahkan gerainya di D’Hoek ke belakang McDonald’s Bintaro sektor 9. Di pusat jajanan tersebut, aroma persaingan tidak begitu kental. Maklum, kendati di situ ada sekitar 90 gerai makanan, tetapi jenis makanan yang mereka jajakan berbeda-beda dan memiliki kekhasan sendiri.

Adi mengaku mendapat tawaran membuka gerai di Ranch Market, Kelapa Gading, dan di Dufan. Tapi ia masih pikir-pikir dulu. Kini ia ingin mewaralabakan usahanya. Namun, belum ada mitra yang berminat. (Aprillia Ika/Kontan)


Editor : Edj
Sumber: