MAGELANG, KOMPAS.com - Menyongsong Visit Jawa Tengah 2011, PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko, terus mengembangkan pariwisata di kawasan Candi Borobudur. Hal ini dilakukan dengan menggali potensi wisata yang ada di 21 desa di sekitar candi.
"Dengan upaya ini, kami berharap, turis-turis memiliki banyak tujuan untuk dikunjungi sehingga betah berlama-lama di sekitar Candi Borobudur," ujar Kepala Unit Candi Borobudur Pujo Suwarno, Minggu (11/10).
Pujo mengatakan, untuk mengembangkan pariwisata di sekitar candi ini, PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko menerjunkan tim khusus untuk mendampingi masyarakat desa. Selain pendataan, masyarakat di tiga desa itu terus dibina, menjalani serangkaian diklat untuk meningkatkan mutu dari potensi desa yang dimiliki. Untuk pelaku industri kerajinan rakyat misalnya, juga akan dibina agar mampu meningkatkan kualitas dan kuantitas produk yang dihasilkannya.
"Bekerjasama dengan badan pariwisata desa, kami juga akan membantu memasarkan produk yang dihasilkan masyarakat," ujar Mardiyo, salah seorang pendamping pemberdayaan desa dari PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko.
Saat ini, pendampingan sudah dilakukan di tiga desa yaitu Desa Wanurejo, Borobudur, dan Candirejo. Pada bulan November, barulah pendampingan akan dilakukan di desa-desa lain.
Potensi Budaya dan Religi
Adi Winarto, salah seorang pendamping yang juga merupakan warga Desa Wanurejo mengatakan, bahwa sembilan dusun di Desa Wanurejo semuanya memiliki potensi wisata yang terdiri dari potensi seni budaya dan religi. Potensi seni budaya diantaranya adalah adanya Sanggar Joyowiyatan, yang menjadi tempat latihan seni dan karawitan di Dusun Tingal. Kelompok kesenian Desa Wanurejo saat ini juga tengah berlatih untuk membuat sendratari Kinara Kinari di Candi Pawon.
Di bidang wisata religi, di Desa Wanurejo terdapat makam keturunan Sultan Hamengkubuwono II yang dulu menjadi Adipati Wonorejo, yang kini menjadi Wanurejo. Makam ini kerap disinggahi menjadi tempat ziarah.
Selain itu, di Desa Wanurejo juga terdapat berbagai industri rakyat, mulai dari makanan hingga cinderamata unik seperti miniatur candi. Rengginang produksi seorang warga Djupriono misalnya, telah menembus pasar ekspor seperti Hongkong, dan Belanda.
Dengan pengembangan pariwisata ini, Adi mengatakan, diharapkan para turis nantinya dapat langsung berkunjung ke lokasi produksi di desa. Dengan cara ini pula, jumlah pedagang asongan di kawasan candi yang selama ini kerap menganggu kenyamanan pengunjung dapat terkurangi, ujarnya.
