KOMPAS
Rabu, 10 Februari 2010 Selamat Datang  |     |  
Sebagian Perajin Tahu di Gunungsaren Belum Pasang Instalasi
Laporan wartawan KOMPAS Lukas Adi Prasetya
Senin, 28 September 2009 | 20:56 WIB

BANTUL, KOMPAS.com - Pemanfaatan limbah cair tahu menjadi biogas di Dusun Gunungsaren Kidul, Trimurti, Srandakan, belum maksimal. Instalasi pemipaan dari sumur-sumur instalasi pengolahan limbah ke rumah belum dipasang semua perajin tahu dengan alasan tak punya cukup dana.

Kasmaini, Ketua Ngudi Lestari-paguyuban perajin tahu di sana mengatakan, saat ini terdapat lima sumur IPAL dan 51 perajin tahu di Gunungsaren Kidul. Satu sumur hanya cukup untuk menampung limbah cair tahu dari tujuh perajin. Satu perajin tahu, dalam sehari menghasilkan rata-rata 100 liter limbah cair.

Tiga sumur IPAL lagi, menurut rencana segera akan dibangun. Dengan total delapan sumur IPAL nantinya, tentu saja itu akan sangat membantu. Namun sepertinya masih kurang untuk mencukupi kebutuhan biogas 51 perajin, ujar Kasmaini, Selasa (28/9).

Salah satu kendala mengapa 10-an perajin belum bisa mendapat biogas, adalah, karena mereka harus mengeluarkan uang untuk membangun instalasi perpipaan. Setidaknya, menurut Saji dan Mahmudi, salah satu perajin tahu, pengeluaran perajin sekitar Rp 2 juta.

Ngadino, perajin tahu yang juga Ketua RT 72 Gunungsaren yang belum bisa memasang instalasi perpipaan biogas, menyebut dana sebagai alasan. " Jika memasang pipa ke sumur yang berjarak 50-an meter dari rumah, ya mahal," ujar Ngadino.

IPAL-IPAL di Gunungsaren yang merupakan bantuan Pemerintah Provinsi DIY dan Pemerintah Kabupaten Bantul ini dibangun tahun 2005. Satu sumur IPAL ditaksir Rp 40 juta. Waktu itu, pemerintah memberikan material bangunan, sementara pengerjaan dilakukan oleh warga, termasuk pemasangan instalasi biogas ke rumah.

Mahmudi, perajin yang sudah menggunakan biogas mengatakan, nyala api biogas tak beda dengan elpiji. Untuk memasak, tak berdampak bau pada masakan. Mahmudi bersama enam perajin membuang limbah cair tahu ke satu sumur. Digunakan bertujuh, nyala biogas tetap stabil jika hanya digunakan tiga jam per hari.

Kasmaini mengatakan, sebenarnya, energi biogas ini, jika jumlahnya berlebih, bisa dibisniskan. Namun langkah pertama adalah mencari cara agar semua rumah perajin tahu bisa dipasang intalasi perpipaannya. selain itu perlu juga dicari teknologi agar biogas yang dihasilkan, bisa disimpan, katanya.

 

 

 

 

Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.