SIMPANGRIMBA, KOMPAS.com — Setelah beberapa bulan ditenangkan pawang, buaya Sungai Bangka Kota kembali mengganas. Dua hari terakhir, sudah dua warga menjadi korban. Seorang nelayan tewas mengenaskan, sedangkan satu lainnya terluka parah.
Korban tewas bernama Madi (15), warga Dusun Limang, Desa Pangkalberas, Kecamatan Kelapa, Bangka Barat. Ia ditemukan tidak bernyawa lagi dengan kondisi luka mengenaskan di beberapa bagian tubuhnya, Rabu (26/8) pukul 08.00.
Kades Bangka Kota Safei Embun dan Kaur Pemerintahan Desa Pangkalberas Hartono yang dihubungi terpisah membenarkan peristiwa itu.
Awalnya, Madi bersama lima temannya berangkat dari Sungai Pangkalberas, Selasa, seusai sahur. Mereka menggunakan dua perahu motor tiba di muara Sungai Bangka Kota untuk mencari kepiting hitam. Para nelayan ini kemudian berpencar menggunakan perahu kolek. Tiba-tiba seorang temannya melihat Madi terjungkal ke sungai bersama dayung yang dipegangnya. Teman itu mendekat dan menyadari Madi tak ada lagi di atas perahu.
"Informasi yang saya dengar dari masyarakat, korban dimakan buaya, cuma kebenarannya saya belum begitu jelas karena saya hanya sebatas dengar-dengar," kata Hartono dihubungi via ponsel, tadi malam.
Menurutnya, setelah sepanjang malam dicari, Madi baru ditemukan pada Rabu sekitar pukul 08.00. Korban mengapung di alur sungai tidak jauh dari lokasi perahu yang dibawanya.
Sejumlah bagian tubuh korban, yakni salah satu tangan dan kakinya putus, terpisah dari badannya. Ada goresan bergaris di bagian tubuh dan luka-luka di kepala, diduga gigitan buaya.
"Setelah tubuhnya ditemukan mengapung, teman-teman korban terus mencari potongan tangan dan kakinya yang sudah putus. Kaki dan tangan yang putus itu, saya juga tidak tanya apakah kanan apa kiri, tapi ditemukan di tempat terpisah," kata Hartono.
Madi awalnya hendak dimakamkan di Dusun Pangkalberas, tetapi keluarga minta supaya dikebumikan di Kampung Limang, Desa Pangkalberas. "Sore atau siang tadi (Rabu), korban dimakamkan di Limang karena permintaan dari orangtuanya," kata Hartono.
36 jahitan
Sehari sebelumnya, Senin pukul 07.00, Aswin (26), warga Desa Bangka Kota, juga diserang buaya. Peristiwa terjadi saat menjelang salat isya dan tarawih. Aswin hendak mengambil wudu di tepi sungai belakang masjid. Tak disangka, seekor buaya besar berukuran sekitar 4 meter menyambar kakinya. Aswin menjerit sejadi-jadinya.
Meski kakinya sudah disambar buaya, pemuda itu tak mau menyerah begitu saja. Sekuat tenaga Aswin membuka mulut buaya yang mencengkeram kakinya. Gigitan buaya sempat terlepas. Namun, belum sempat Aswin menjauh, kembali terkaman bersarang di paha korban.
Aswin yang pahanya mengucurkan darah berusaha memukul kepala buaya. "Saat itu warga dan jemaah masjid mulai ramai ke tepi sungai menolong Aswin," tutur Kades Bangka Kota Safei Embun yang dihubungi lewat telepon, Selasa petang.
Setelah sekitar 15 menit kemudian baru buaya itu melepaskan gigitannya. Namun, reptil itu rupanya masih mengincar korban dan sempat menunggu beberapa saat di tepi sungai sebelum akhirnya menghilang dari pandangan warga yang berusaha menangkapnya.
Aswin langsung dilarikan warga ke Puskesmas Simpangrimba untuk mendapat pertolongan. Korban mengalami pendarahan cukup banyak dari luka terkaman buaya di paha dan kakinya. Akibat luka gigitan itu, Aswin harus mendapatkan 36 jahitan. "Aswin untuk sementara ini tak bisa berbuat apa-apa, terbaring di rumah," ujar Safei.
Delapan bulan ini, setidaknya sudah empat kali buaya Sungai Bangka Kota menyerang warga. "Kami sudah berusaha untuk melakukan ritual dengan memanggil dukun untuk menjinakkannya. Namun, menurut dukun, ada beberapa pantangan yang dilanggar warga sehingga buaya itu kembali mengganggu, misalnya ada warga yang membuang kotoran atau sisa daging ke sungai, itu tidak boleh," ujar Safei yang sedang berkonsultasi dengan para tetua Desa Bangka Kota untuk mencari jalan lain menjinakkan buaya dan menjauhkan warga dari terkaman buaya.
Warga setempat sudah cukup resah dengan ulah buaya Sungai Bangka Kota. Untuk itu, Safei mengimbau warga lebih berhati-hati saat melakukan aktivitas di sungai. Diharapkan juga warga tidak melanggar pantangan sang dukun sehingga bisa menjinakkan buaya-buaya di sana. (j2/yik/fly)
