Selasa, 2 September 2014

News / Travel

Penambangan Emas Perkecil Peluang Komodo

Minggu, 26 Juli 2009 | 11:59 WIB

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah pusat harus cepat mengambil tindakan melarang eksplorasi tambang emas di Kabupaten Manggarai Barat, NusaTenggara Timur, sebelum dunia internasional bereaksi. Jika reaksi muncul, selain memperburukcitra Indonesia, peluang Taman Nasional Komodo dalam pemilihan tujuh keajaiban alam baru, jelas makin tak ada.

Demikian salah satu intisari Seminar sehari Tambang dan Masa Depan PariwisataManggrai Barat, di Kantor Pusat Pengelolaan Lingkungan Hidup Regional Jawa, Kementrian Lingkungan Hidup (KLH), Yogyakarta.

Acara itu menghadirkan pembicara Siti Maimunah (Direktur Eksekutif Jaringan Advokasi Tambang/Jatam), Petrus K Aman OFM (pemerhati masalah lingkungan), dan Dambung Lamuara Djaja (konsultan pariwisata). "Baru KLH yang bilang bahwa eksplorasi tambang emas di Manggarai Barat harus dihentikan. Tapi mana suara departemen dan menteri yang lain? Jika pemda setempat tak bisa diharapkan, masa pusat tak tergerak melihat masalah ini. Malu juga kan sama dunia internasional," kata Siti.

Menurut Siti, dengan kenyataan bahwa 8 izin penambangan di wilayah Manggarai Barat sudah dikeluarkan, ini bukan situasi main main. Kawasan penambangan tersebut adalah daerah pertanian danjuga mulai bergerak maju sebagai tujuan pariwisata, dengan andalannya Taman Nasional Komodo.

"Untuk mendapat 1 gram emas, butuh 100 liter air dan membuang 2,1 ton lumpur plus batu. Ongkosnya lebih mahal ketimbang hasil yang cuma sejumput. selain itu, proses penambangan kan juga menghasilkan limbah. Limbah akan masuk laut dan mencemari. artinya lagi, kehidupan komodo terancam," papar Siti.

Dambung menambahkan, kunjungan 19.000 wisatawan ke Manggarai Barat selama tahun 2008, dan rata-rata masa tinggal di hotel 5,3 hari, bukan pencapaian yang gampang. "Taman Nasional Komodo lah magnet bagi para wisatawan. Dari pariwisata, Rp 70 miliar bisa didapat.Di sisi lain, pendapatan pemda setempat dari semua sektor pun cuma Rp 12 miliar. Bandingkan angkanya. Jika eksplorasi tambang emas tetap jalan, potensi Rp 70 miliar per tahun perlahan berkurang," ujar Dambung.

Petrus mengutarakan, yang mestinya dilakukan pemda dan pemerintah pusat sekarang mestinya adalah mencari cara agar Taman Nasional Komodo semakin dikenal dan lingkungan sekitarnya tetap alami. "Wisatawan ya tidak minat melihat penambangan emas jika itu merusak habitat komodo" katanya.


Editor :