Jumat, 19 Desember 2014

News /

Patahan Lembang

Pesona Alam Sesar Lembang

Senin, 13 Juli 2009 | 12:00 WIB

 

Tidak terhitung banyaknya analisis yang menyebutkan Bandung rawan terjadi gempa bumi besar. Penyebabnya adalah sesar Lembang yang membentang 22 kilometer di dataran tinggi Bandung. Kekuatannya diperkirakan mencapai 6,5-7 skala Richter. Bandung dan sekitarnya pasti luluh lantak bila dihantam gempa seperti itu.

"Semua bisa memberikan perkiraan. Namun, hingga saat ini belum ada cara memastikan waktu terjadi gempa bumi. Daripada terlalu khawatir, ada potensi menarik yang belum banyak dikembangkan, yaitu wisata di sesar Lembang," kata Budi Brahmantyo, pendamping acara Jajal Geotrack I dengan tema "Potensi Wisata Sesar Lembang", Minggu (12/7).

Menurut Budi, obyek wisata pertama yang bisa dikunjungi adalah Gunung Batu. Gunung ini merupakan batuan bekas lava Gunung Sunda yang usianya diperkirakan 510.000 tahun.

"Selain melihat relief lava yang sangat indah, wisatawan juga bisa melihat gunung-gunung yang mengelilingi Bandung. Gunung itu adalah Papandayan, Malabar, Patuha, Burangrang, Bukittunggul, dan Tangkubanparahu," katanya.

Puas memandangi bentangan daratan Bandung, pengunjung bisa menikmati Maribaya di sekitar dinding sesar Lembang. Di sini pengunjung bisa menjadi saksi tempat terpotongnya gawir sesar Lembang oleh Sungai Cikapundung. Puncaknya, pengunjung akan dibuai keindahan air terjun Maribaya. Sebuah pelajaran

Pendamping lainnya, T Bachtiar, menambahkan, Gunung Bukittunggul memiliki pesona yang tidak ditemui di tempat lain. Salah satunya, artefak megalitik di Kampung Batuloceng. Masyarakat percaya, artefak yang disebut "jabang bayi" ini membawa berkah. Ada mitos, orang yang bisa mengangkat artefak dengan tinggi 40 cm dan berdiameter 25 cm itu diyakini akan enteng rezeki.

Situs Babalongan di Bukittunggul juga menyimpan misteri lain. Berbentuk punden berundak dan seperti kolam segi empat, tempat ini diyakini menjadi tempat pemujaan zaman megalitik. Materialnya didominasi tanah dan kayu.

Nurul Huda, peserta tur, mengatakan, acara ini menambah pengetahuan dan kewaspadaan masyarakat Bandung. Di satu sisi, masyarakat memiliki alternatif baru berwisata. Di sisi lain, masyarakat bisa meningkatkan kewaspadaan terhadap bencana dengan mempelajari gejala alam yang terjadi sebelumnya. (Cornelius Helmy)

 


Editor :