SABTU (20/6) lalu Tribun Kaltim bersama Komunitas Athena diundang Yayasan Penyelamatan Orangutan Borneo di Jalan Balikpapan-Handil Km 44 Samboja Kutai Kartanegara. Selain menanam pohon, mereka juga diajak melihat beruang madu, orangutan, gudang buah, dan keindahan alam di sekitar Samboja Lestari. Berikut laporan wartawan Tribun Kaltim, Achmad Subechi.
PERUT mulai keroncongan. Rina Dwi Noviani, Corporate Communication & Secretariat Group Area Pamasuka, sibuk hilir mudik di sekitar mobil. Wanita itu lalu membuka bagasi mobil. Astaga, di dalamnya ada kue-kue lesat yang ia beli di Balikpapan, berikut teh kotak. Semua anggota rombongan dapat jatah. "Ayok kita sekarang menuju ke Samboja Lodge. Di sana kita istirahat sambil minum dan menikmati pemadangan alam," ajak Ishak Yassir.
Mobil kembali bergerak menyusuri jalan tak beraspal. Jarak dari pulau-pulau tempat orangutan ke Samboja Lodge tak begitu jauh. Begitu turun dari mobil, saya sedikit terpana melihat bangunan di Samboja Lodge yang begitu mempesona. Ada puluhan kamar yang disediakan sebagai tempat penginapan. Masing-masing kamar begitu mewah. "Cocok untuk honeymoon," kelakar rekan-rekan saya. Sejumlah turis terlihat bercengkarama sambil menikmati keindahan hutan. Penginapan ini sengaja dibangun Yayasan Penyelamatan Orangutan Borneo untuk membantu pelestarian orangutan Kalimantan. "Ini sengaja kami dirikan sebagai kawasan wisata yang berwawasan pendidikan dan konservasi. Jadi semata-mata, bukan untuk komerrsial. Turis asing yang datang kesini, wajib bekerja. Sudah bekerja, mereka malah bayar ke kami. Biasanya mereka ikut menanam, menyiapkan makanan buat orangutan dan beruang," tutur Ishak Yassir. Selain itu, mereka juga terlibat dalam pembuatan kompos dan bercocok tanam organik.
Biasanya, mereka yang menginap di tempat ini adalah para peneliti dari Kanada, Jerman dan sejumlah negara lainnya. Sebagai tempat wisata berbasis konservasi alam, hampir 95 persen dari pekerja di tempat ini merupakan masyarakat sekitar. Sedangkan harga sewa kamarnya sekitar 110 dolar AS hingga 190 dolar AS per orang, per malam. "Itu sudah termasuk biaya makan. Uang sewa kamar setelah dipotong dengan biaya operasional dan gaji karyawan akan kami gunakan untuk membantu biaya konservasi alam dan satwa di sini, terutama orangutan dan beruang madu yang kelangsungan hidupnya kian terancam," tambahnya.
Saya bersama teman-teman sempat melihat-lihat kamar yang paling murah hingga paling mahal. Luar biasa... Amat menyenangkan kalau menginap di tempat ini. Lebih-lebih pada malam hari. "Tidak ada musik, tidak ada televisi di dalam kamar. Suara musiknya kalau malam ya suara binatang. Kami hanya menyediakan satu buah televisi di ruang bawah. Kamar-kamar lainnya tidak ada."
Dari Samboja Lodge, kami diajak kembali ke Samboja Lestari. Semula, kami berencana hendak mengadakan kegiatan masak-memasak. Tetapi, sejumlah anggota rombongan lebih suka memilih berjalan-jalan bahkan naik ke menara yang lumayan tinggi. Menara mirip Pagoda itu benar-benar menawan. Untuk naik ke atas, para pengunjung harus melalui anak tangga memutar. Di atas menara, saya dan Ishak Yassir sempat berdiskusi tentang berbagai hal, sambil melihat Balikpapan dari ketinggian. "Coba tuh lihat Pak Bechi... itu lahan KP batu bara. Sebentar lagi, pasti akan merembet kemana-mana. Tadinya ada teman yang mau beli buat lapangan golf, tapi tidak jadi karena keburu dijadikan lahan batu bara. Kalau lapangan golf kan pasti hijau," tuturnya.
Sambil dihantam semilir angin, kami berdua berdiskusi juga tentang nasib bangsa ini kedepan, termasuk soal figur para calon pemimpin bangsa yang layak menjadi pemimpin. Yassir juga bercerita mengenai pengalamannya di luar negeri. "Saya ini mirip dengan Pak Bechi. Penampilannya apa adanya. Saya enggak suka mengenakan pakaian perlente. Rasanya gimana gitu. Biasanya kemana-mana saya hanya pakai sepatu kets saja. Tetapi, ketika saya di luar negeri, ada teman bule yang menegur saya. Sepatu kets itu kan untuk olahraga Yassir... Sejak saat itu saya mulai berubah," kenangnya.
Sebelum ngobrol di atas menara, kami sempat membakar ikan. "Wah.. kemana saja Pak. Tadi kami tunggu-tunggu kok enggak datang-datang. Khawatir terlalu siang, ayam dan ikannya kami bakar lebih dahulu. Ini tinggal sisanya saja," kata seorang karyawan BOS. Usai membakar ikan, kamu semua mendapat jamuan makan siang. Menunya, ayam bakar dan ikan bakar, lengkap dengan lalapan serta buah semangka. "Sambalnya kami buat tiga macam," tutur Nanang Qasim (Manager Project Wanariset Samboja Orangutan Reinstroduction).
Selepas makan, Rina Dwi Noviani, Corporate Communication & Secretariat Group Area Pamasuka, mohon diri karena pukul 15.00 ia harus terbang ke Tarakan. Sementara teman-teman lainnya mendapat dua jatah kamar untuk beritirahat sambil berdiskusi. "Kenapa sih BOS ini kesannya ekslusif? Buktinya, banyak anggota masyarakat yang tidak tahu tempat ini," tanya Nani Tajriyani, Koordinator Milis Kaltim. "Kami tidak ekslusif. Banyak pelajar yang datang kemari. Cuman, sebelum kemari, mereka harus membuat janji lebih dahulu. Mengapa? Kami ini pekerja lapangan. Kalau tidak janjian lebih dahulu, siapa yang mengantar mereka keliling. Apalagi ini bukan tempat wisata yang terbuka untuk umum seperti di tempat wisata lainnya. Di sini ini tempat wisata berbasis konservasi alam," tuturnya.
***
TAK terasa hari telah sore. Sebelum pulang ke rumah, Ishak Yassir mengajak rombongan untuk meninjau lokasi persemaian yang letaknya di luar areal BOS. Saya satu mobil bersama dia. Ketika mobil yang saya kemudikan bergerak melalui jalan yang terjal dan berliku, Ihak Yassir berteriak. "Pak Bechi... itu ada biawak. Wow... besar sekali." Biawak itu rupanya menyeberangi jalan. Kata, Yassir, ia sudah terbiasa bertemu dengan sejumlah binatang seperti ular, orangutan, babi dan binatang-binatang lainnya. "Saya tidak pernah takut. Mengapa? Konsentrasi kami adalah bekerja dan tidak menganggu mereka," tuturnya.
Baru beberapa ratus meter mobil melaju, tiba-tiba saya dikagetkan dengan seekor orangutan yang berdiri persis di tepi jalan. "Hah...? Kayak Kingkong?" teriak Feri Mei Efendi, wartawan Tribun Kaltim yang satu mobil dengan saya. Yassir juga kaget. "Lho... kok ada orangutan di sini?" tanya saya. "Biasa Pak Bechi... Dia lepasa dari pulau." Mobil lalu berhenti. Ishak Yassir menghubungi anak buahnya via selular. Tak lama kemudian, Ishak menyuruh kami tancap gas. Begitu roda bergerak, orangutan yang katanya masih kanak-kanak itu menyelinap masuk ke dalam hutan.
Baru beberapa menit mobil berjalan, tiba-tiba ada dua sepeda motor terparkir di tepi jalan. "Mas... wah gawat. Jangan-jangan mereka pemburu orangutan?" tanya saya. "Bukan, saya kira itu anak-anak yang sedang mencari orangutan," ungkapnya. Yassir lalu meminta saya menghentikan mobil. Ia lalu turun dan berjalan kaki.
Ternyata, dugaan Yassir betul juga. Sebuah mobil jeep pemburu orangutan lengkap dengan senjata sumpit, sibuk mencari orangutan. "Hai... di sini orangutannya," teriak Yassir. Beberapa pria berseragam yang ternyata karyawan BOS, sibuk berlarian masuk ke dalam hutan. "Apa tidak susah menangap orangutan yang lepas?" tanya saya kembali. "Tidak... biasanya anak-anak sudah tahu caranya. Misalnya, ada yang ditembak pakai bius dengan menggunakan sumpit. Tapi ada juga yang diberi makan. Kalau diberi makanan buah mereka mendekat, kami dengan mudah menangkapnya," tutur Yassir.
Tanpa melihat proses penangkapannya, rombongan terus melaju menuju tempat persemaian bibit tanaman. Letaknya sekitar 100 meter dari pintu gerbang BOS menuju arah Handil. Di tempat ini berbagai macam tanaman tersedia. "Ini tidak kami jual. Kalau ada orang yang minta bibit untuk ditanam, kami akan memberinya."
Dari tempat itu lalu kami berjalan kaki menuju pusat kerajinan tangan yang letaknya bersebelahan dengan tempat persemaian. Akar-akar kayu sisa pengkulitan lahan batu bara yang biasanya dibuang sisa-sia, dimanfaatkan para penduduk dibawah bimbingan BOS untuk diolah menjadi barang kerajinan tangan. Ada kursi, gantungan baju, asbak, tempat tisu dan sejumlah asesoris lainnya, dijual di tempat ini. "Kemarin teman-teman menjual kursi kayu dari sisa-sisa potongan kayu (akar) ke Belanda," tambah Yassir. Kami sempat diberi cindera mata bergambar orangutan.... Terima kasih sahabat... (*)

