BANDUNG, KOMPAS.com — Pepatah mengatakan, selalu ada pertama kali dalam segala hal. Dan, jika Anda tengah bertarung memperebutkan suatu jabatan negara, seperti gubernur, presiden, atau wakil presiden, Anda mungkin akan melakukan banyak hal baru demi meraih hati masyarakat, seperti makan nasi aking, terjun ke tempat penampungan sampah akhir, atau sekadar pergi melihat bintang.
Khusus yang terakhir ini dilakukan oleh calon wakil presiden Boediono ketika berkampanye terbuka di Jawa Barat, Jumat-Sabtu, 19-20 Juni 2009. Setelah mengunjungi para pengusaha kecil di Lingkungan Industri Kecil dan berdiskusi mengenai perbankan syariah guna mendengar aspirasi masyarakat, mantan gubernur Bank Indonesia ini mengunjungi Observatorium Bosscha, Lembang.
Di salah satu observatorium terbesar di belahan selatan dunia ini, Boediono menyempatkan diri melihat bintang di Ruang Teleskop Zeiss. Benda angkasa luar yang dilihat ekonom UGM tersebut adalah Bintang BE, sejenis bintang terang. Tidak hanya itu, mantan menteri koordinator perekonomian di era pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini juga mendengarkan masukan dari para ilmuwan yang hadir, seperti Kepala Observatorium Bosscha Taufik Hidayat, Rektor ITB Djoko Santoso, dan jajaran pengajar ITB.
Para ilmuwan tersebut berharap, jika Boediono terpilih menjadi wakil presiden, dapat lebih memperhatikan bidang riset, terutama di Bosscha. Hal ini ditanggapi positif oleh Boediono, yang baru pertama kali melihat bintang di observatorium tersebut. "Bosscha adalah aset nasional yang perlu dikembangkan sebagai tempat belajar dan riset," ujarnya, Jumat (19/6) malam di Bosscha, Lembang.
Boediono juga sempat "ditodong" para ilmuwan tersebut agar menentang pembangunan real estate di sekitar kawasan observatorium satu-satunya di Asia Tenggara tersebut. Dikhawatirkan, cahaya penerangan dari perumahan yang hendak dibangun tersebut dapat membelokkan cahaya di kegelapan. Hal ini mengakibatkan terganggunya pandangan teleskop penelitian sehingga pengamatan benda angkasa, seperti struktur galaksi Bima Sakti, asteroid, komet, dan lainnya, terganggu. Boediono kembali menanggapinya positif. "Saya ingin kita sama-sama menjaga daerah ini karena ini aset nasional," ujarnya.
Kendati diskusinya dan para ilmuwan Bosscha berlangsung serius, Boediono tetap memberikan sentuhan humorisnya. Hal ini misalnya terjadi ketika Taufik menjelaskan sebuah komet yang berhasil diabadikan oleh ilmuwan Bosscha pada bulan Mei 2006. "Jarak komet ini dengan Bumi kebetulan dekat, pak, cuma dua kali Bumi-Bulan, atau sekitar 1,6 juta kilometer," ujar Taufik dengan wajar datar.
Sementara itu, Boediono, yang mendengar penjelasan tersebut, terlihat sedikit terkejut. Walaupun jarak tersebut tergolong dekat bagi astronom, yang biasanya mengukur jarak dengan satuan tahun cahaya, tetapi bagi seorang Boediono, seorang ekonom, jarak 1,6 juta kilometer sangat jauh. Namun, setelah diyakinkan bahwa jarak tersebut dekat, mantan Menteri Koordinator Perekonomian di era Presiden SBY itu menyeletuk, "Wah, kalau dekat, bisa nyerempet dong." Hal ini membuat semua yang hadir tertawa.

