PEKANBARU, KOMPAS.com — Pembabatan hutan dan pembangunan kanal-kanal yang dilakukan PT Sumatra Riang Lestari (SRL) di Pulau Rangsang, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau, bakal merendamkan pulau terluar yang ada di perbatasan Indonesia-Malaysia itu. Saat ini saja, kawasan perkampungan dan kebun sudah mulai terendam air.
Tokoh masyarakat Kepulauan Meranti yang bermukim di Pulau Rangsang, Mahidin, ketika dihubungi di Tangjung Samak, Kecamatan Rangsang, Selasa (16/6), mengatakan, lokasi areal hutan alam yang dibuka perusahaan tersebut berada di Desa Sungai Gayun.
"Hingga kini areal permukiman warga, jalan antardesa, dan lokasi kebun masyarakat tergenang air laut akibat pembukaan hutan dan kanal-kanal yang dilakukan perusahaan tersebut," katanya.
Mahidin menjelaskan, sebelum perusahaan beroperasi, masyarakat di daerah itu telah menolak keberadaan perusahaan tanaman industri itu karena pulau tersebut saat ini mengalami abrasi dan terdiri atas lahan gambut yang dalam.
Namun, lanjut dia, perusahaan berdalih mendapat rekomendasi dari Gubernur Riau dan Bupati Bengkalis sebelum Kabupaten Kepulauan Meranti terbentuk. Penebangan hutan alam dilakukan dan perusahaan juga membangun kanal-kanal untuk memudahkan angkutan kayu.
"Kami telah menolak tapi perusahaan ini degil padahal mereka tidak punya izin untuk menebang kayu dan mengangkut kayu keluar kawasan bahkan dokumen Amdal pun mereka tidak punya," ujar Mahidin.
Ia menambahkan, perusahaan mengakui mereka belum punya izin tebang serta izin angkut kayu dari Menteri Kehutanan, begitu juga dokumen Amdal, tetapi mereka berdalih memiliki rekomendasi dari Gubernur Riau dan Bupati Bengkalis.
Menurut Mahidin, masyarakat lima desa di daerah itu telah mendatangi lokasi minta pekerjaan perusahaan menebang kayu dan membuka kanal dihentikan, tetapi pihak perusahan tak peduli. "Kami datang mereka berhenti bekerja. Tapi begitu kami balik mereka mulai bekerja menghancurkan hutan," ungkap Mahidin.
Akibat dari pembukaan hutan alam itu, jalan desa, jalan penghubung antardesa, kebun karet, kebun kelapa, kebun coklat, ladang sayur serta permukiman masyarakat di Sungai Gayun terendam banjir dan tidak pernah lagi kering sejak perusahaan membuka areal hutan dua bulan lalu.
Mahidin mengungkapkan telah menyampaikan protes ke Pemerintah Kabupaten Bengkalis melalui Dinas Kehutanan Bengkalis. Namun, pihak kehutanan beralasan bukan urusannya lagi karena Pulau Rangsang telah menjadi bagian Kabupaten Kepulauan Meranti, bukan lagi wilayah Kabupaten Bengkalis.
"Pejabat di Bengkalis yang memberikan rekomendasi buang badan. Entah apa yang ada di benak mereka mengizinkan pulau yang sebagian tanahnya habis karena abrasi untuk dijadikan hutan tanaman industri. Pejabat di Riau ini tidak memikirkan masyarakat," geram Mahidin.
Ia mengatakan, bersama masyarakat serta LSM peduli lingkungan di daerah itu sedang menyusun rencana untuk menggugat perusahaan dan pemerintah karena jika didiamkan saja maka pulau berpenduduk 60.000 jiwa itu benar-benar tenggelam.
Pulau Rangsang yang merupakan kawasan rawa-rawa gambut ini lokasinya berhadapan dengan Selat Melaka dan merupakan pulau terluar Indonesia-Malaysia. Kawasan pulau yang berada dipinggir Selat Melaka tiap tahun rontok ke laut karena hantaman gelombang laut.

