Selasa, 22 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Selasa, 22 Mei 2012 | 03:07 WIB
Kebakaran di Lahan Gambut Mulai Terjadi
Irma Tambunan | Selasa, 9 Juni 2009 | 16:46 WIB
|
Share:

JAMBI, KOMPAS.com — Kebakaran pada lahan gambut mulai terjadi di Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi. Lebih dari lima hektar lahan dalam area penggunaan lain atau APL dibuka untuk kebun sawit oleh masyarakat dengan cara dibakar.

Komandan Daerah Operasional I Balai Konservasi Sumber Daya Alam Provinsi Jambi, Saring, mengatakan, Selasa (9/6), kebakaran diketahui terjadi di Desa Sungai Aur, Kecamatan Kumpeh Ulu, Muaro Jambi, saat pihaknya sedang melaksanakan patroli penanggulangan kebakaran lahan dan hutan akhir pekan lalu.

Tim patroli mendapati warga tengah membakar lahan. Pembakaran berlangsung di atas lahan gambut yang mudah mengakibatkan kebakaran makin meluas. "Kami langsung minta mereka menghentikan kegiatan pembakaran," ujar Saring.

Menurut Saring, patroli sudah secara intensif dilakukan oleh tim Manggala Agni. Sebanyak 210 anggota tim saat ini terus berpatroli memantau kebakaran lahan pada sembilan kabupaten di Jambi.

Berdasarkan data Satelit NOAA, jumlah titik api sejak Januari hingga awal Juni telah mencapai 209 titik. Kabupaten Tebo merupakan wilayah yang paling rawan saat ini. Terdapat paling banyak titik api di sana, yaitu 53 titik. Daerah rawan lainnya di Kabupaten Bungo 53 titik, Kabupaten Merangin 39 titik, dan Sarolangun 20 titik.

Pada Senin (8/6) lalu, satelit mencatat adanya titik api di kawasan area penggunaan lain milik PT Megasindo Perkasa di Kabupaten Bungo, PT Agra Makmur Lestari di Kabupaten Batanghari, dan milik masyarakat di Kabupaten Merangin. Sedangkan Selasa kemarin, titik api tak terpantau karena hujan turun merata di wilayah Jambi.

Kepala BKSDA Provinsi Jambi Didy Wurjanto mengatakan, kebakaran lahan lebih rawan terjadi di lahan milik masyarakat. Melihat pengalaman dua tahun sebelumnya, lanjut Didy, pembakaran lahan banyak dilakukan untuk pembukaan kebun sawit dan karet.

Pihaknya mengindentifikasi adanya pembakaran lahan di Kabupaten Tebo yang disengaja untuk land clearing oleh masyarakat, dipicu praktik jual beli tanah antara pemuka masyarakat setempat dengan pihak ketiga. Praktik serupa juga terjadi di kawasan Inhutani V yang digunakan sebagai revitalisasi perkebunan.

Program pemerintah ini mendorong berlangsungnya penyiapan lahan untuk kebun karet dan sawit dengan menggunakan api. Program tidak disertai petunjuk dan penyediaan biaya penyiapan lahan yang benar.

Pembersihan lahan dengan membakar lahan juga marak di Batanghari, sebagai pelaksanaan program peremajaan karet rakyat. Terdapat kecenderungan bahwa masyarakat setempat tidak meremajakan kebun karet tua, tetapi membuka lahan baru untuk ditanami bibit karet yang dibagikan pemerintah.

Didy melanjutkan, hingga kini belum satu pun pemerintah kabupaten di Jambi telah menganggarkan dana penanggulangan kebakaran lahan. Padahal, penanggulangan semestinya dilaksanakan bersama-sama dengan provinsi dan pusat. "Sekarang ini, kalau ada kebakaran lahan di wilayah mereka, kabupaten malah langsung meminta Manggala Agni saja yang menanganinya," ujarnya.