PADANG, SELASA - Masyarakat Nagari Durian Tinggi, Kecamatan Kapur IX, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat meminta pemerintah semakin gencar melakukan sosialisasi tentang satwa liar yang dilindungi.
Kebutuhan pengetahuan tentang satwa liar ini diperlukan setelah seorang warga, Syarifuddin (53), tertangkap karena hendak menjual kulit serta tulang harimau Sumatera.
Wali Nagari Durian Tinggi, Ardianto, mengatakan pengetahuan tentang satwa dilindungi ini dibutuhkan karena hampir semua warga bekerja sebagai petani di hutan-hutan. Ketidaktahuan ini juga membuat warga bingung untuk melaporkan masalah sehubungan dengan konflik antara manusia dan hewan liar.
"Ladang warga berada di perbukitan. Karena itu, mereka kerap bertemu dengan hewan liar seperti beruang madu dan harimau sumatera. Beruang madu, misalnya, kerap mengganggu peladang dengan memakan seluruh ransum p eladang yang dibawa ke tempat pengolahan gambir," kata Ardianto.
Kekesalan ini juga yang membuat Syarifuddin memasang racun di sekitar tempat pengolahan gambir. Racun ini yang akhirnya membunuh seekor harimau Sumatera. "Saya tidak ingin kejadian terulang pada anak-kemenakan saya. Karena itu, saya harap Pemerintah mau memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang satwa liar," kata Syarifuddin yang ditahan sejak dua pekan silam.
Dia mengatakan, kematian harimau bukanlah sesuatu yang disengaja karena dia ingin membunuh beruang madu. Dia juga tidak tahu kalau beruang madu juga tergolong hewan yang dilindungi.
Di tempat terpisah, Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Barat, Indra Arinal, menepis anggapan bahwa masyarakat kekurangan informasi tentang satwa liar serta pelaporan konflik.
Masyarakat di pedalaman Kabupaten Dharmasraya, misalnya, segera melaporkan ketika menemukan satwa liar, Sabtu lalu. "Semula mereka mengira mendapati harimau, tapi setelah petugas kami mengecek, ternyata itu kucing emas," kata Indra.
Dia mengatakan, sosialisasi tentang satwa liar dan dilindungi selalu disampaikan petugas BKSDA ketika menangani konflik. Selain itu, sosialisasi juga bisa diperoleh dari televisi.
Direktur Walhi Sumatera Barat Khalid Saifullah, berpendapat sosialisasi tentang satwa liar dan dilindungi perlu terus dilakukan. Sosialisasi dibutuhkan untuk menghindari konflik yang lebih tajam lagi.


