Kamis, 17 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 17 Mei 2012 | 03:24 WIB
Nasir, Dokter Harimau yang Merangkap Petugas Kebersihan
Irma Tambunan | Rabu, 25 Februari 2009 | 09:03 WIB
|
Share:

KOMPAS/IRMA TAMBUNAN
Dalam kondisi terbius, Salma menjalani pemeriksaan kesehatan dan pengobatan di ruang karantina Kebun Binatang Taman Rimbo Jambi, Jumat (13/2). Harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) ini kehilangan bayinya yang telah dicuri orang di area penyangga Taman Nasional Berbak, Jambi.

TERKAIT:

PASANGAN Rangga sudah lanjut umur. Ia sering kali terlihat berjalan agak pincang akibat rematik. Kata drh Nasir (42), Rangga harus sering-sering diberi obat penguat supaya metabolisme tubuhnya meningkat.

Ia tampak jauh berbeda dibandingkan harimau pada umumnya yang cenderung ganas. Bahkan, ketika teman serumahnya di Kebun Binatang Taman Rimbo Jambi, Sheila, terlihat agresif, Rangga kurang menanggapi. Namun, jika ada orang mengganggu dari luar kandang, ia baru menunjukkan sikap ganasnya.

”Rangga sudah sepuh. Umurnya sudah 25 tahun sehingga agak terkesan lamban,” tutur Nasir.

Rangga dikirim dari Kebun Binatang Ragunan tahun 1991. Saat itu ia masih sangat muda. Nasir yang lima tahun mengabdi di Kebun Binatang Taman Rimbo menjadi satu-satunya dokter bagi Rangga dan ratusan satwa liar lainnya di sana. Nasirlah satu-satunya orang yang dapat bebas masuk ke dalam kandang Rangga dan membelainya tanpa dibalas penyerangan sedikit pun dari satwa tersebut. Nasir menunjukkan rasa cintanya pada Rangga.

”Awalnya memang takut, tetapi lama-lama terbiasa juga menghadapi harimau. Kalau niat kita baik, harimau ini tidak akan menyerang,” ujar Nasir.

Nasir adalah dokter hewan lulusan Kedokteran Hewan Universitas Asia Kuala, Banda Aceh. Selama lima tahun di Taman Rimbo, Nasir tidak hanya bekerja merawat hewan-hewan yang sakit. Ia juga menjadi pengasuh bagi mereka.

Menurut Nasir, saat ini tidak ada dokter selain dirinya di sana. Sebagai satu-satunya dokter, ia sering kali kewalahan menangani hewan-hewan yang sakit di Taman Rimbo.

Bisa dibayangkan, ada 41 jenis satwa liar dengan jumlah 105 ekor. Sebagian di antaranya merupakan satwa liar dilindungi dan terancam punah, seperti gajah sumatera, kasuari, bangau tongtong, owa ungko, beruang madu, buaya sinyulong, dan binturung. Jika mereka sakit, Nasirlah yang bertanggung jawab merawat.

Bahkan, ketika jumlah petugas jaga dalam kebun binatang ini hanya lima orang, Nasir terpaksa merangkap jadi petugas kebersihan di sekitar kandang satwa. ”Satu dokter saja menurut saya masih kurang untuk Taman Rimbo,” ujarnya.

Selama dirinya bekerja di Taman Rimbo, sejumlah satwa mati karena terkena infeksi, seperti dua ekor tapir dan seekor uwa ungko.

Menurut Nasir, cukup berat menjadi satu-satunya dokter di kebun binatang. Padahal, ketika diterima sebagai honorer, Nasir hanya menerima Rp 220.000 per bulan. Namun, jika tidak ada halangan, kata Nasir, dirinya akan diangkat sebagai pegawai negeri sipil. Ia berharap dapat memperoleh penghidupan yang lebih baik dengan tetap mengabdi sebagai perawat satwa liar.