Rabu, 16 April 2014

News / Regional

Setahun 27 Paus Ditangkap

Minggu, 9 November 2008 | 07:46 WIB

Baca juga

KUPANG, MINGGU - Para nelayan di Desa Lamalera A dan B di Kecamatan Wulandoni, Kabupaten Lembata, sepanjang tahun ini telah menangkap 27 ekor ikan paus guna diambil daging, kulit dan minyaknya untuk dibarter dengan pangan dan dijual untuk mendapatkan uang bagi pemenuhan berbagai kebutuhan.

Salah seorang tokoh masyarakat Lamalera, Frans Keraf, di Kupang, Minggu (9/11), mengatakan, hasil tangkapan tahun ini lebih sedikit dibandingkan tahun 2007 yang mencapai 44 ekor ikan paus.

"Aktifitas menangkap ikan paus sudah dilakukan para nelayan Lamalera secara turun temurun. Hingga kini lebih dari 2.400 jiwa masyarakat di Desa Lamalera A dan B menggantungkan hidup dari daging, kulit dan minyak serta cindera mata yang dihasilkan dari ikan paus," katanya.

Daging ikan paus dijual di Pasar Wilandoni, dengan harga sekitar Rp 3.000 sampai Rp 5.000 per ikat, sementara minyak ikan paus dijual Rp 10.000 per botol. Saat ini di dua desa yang terletak di perbukitan batu cadas di wilayah selatan Lembata itu terdapat 15 "peledang" (perahu penangkap ikan paus), namun yang benar-benar aktif melakukan kegiatan penangkapan antara Mei sampai Oktober hanya sembilan sampai 11 "peledang".

Menurut Frans, penduduk Lamalera hanya menggantungkan hidup dari menangkap ikan paus. Karena masa penangkapan paus hanya berlangsung antara bulan Mei sampai Oktober, maka pada bulan lainnya biasanya dimanfaatkan penduduk Lamalera dengan menjadi tukang bangunan. "Mereka tidak hanya menjadi tukang bangunan di Kabupaten Lembata tetapi juga hingga ke Pulau Flores dan bahkan Timor."

Frans Keraf yang juga koordinator kelompok "Foto Voice" untuk masyarakat Lamalera mengatakan, setiap atraksi penangkapan ikan paus selalu diabadikan dengan camera digital yang dibagikan sebuah LSM internasional. Hasil foto itulah yang dipamerkan di Kupang pertengahan pekan ini. Frans bersama kelompok "Foto Voice" Lamalera memamerkan 50 foto hasil jepretan mereka di Museum NTT.


Editor :
Sumber: