Sabtu, 1 November 2014

News / Megapolitan

Bukan Masanya Mengadu Cupang

Minggu, 21 September 2008 | 05:24 WIB
Laporan Wartawan Kompas, Susi Ivvaty

APA istimewanya ikan cupang (Betta splendens)? Ukurannya kecil, penyendiri, dan gemar berantem. Nah, justru itu menariknya, di samping warnanya yang tajam dan beragam serta bentuknya yang indah. Penggemarnya sejagat, termasuk mereka yang tergabung dalam Komunitas Indo Betta Splendens (INBS).

Umumnya, penggemar ikan cupang mengakrabi ikan ini sejak masa kanak-kanak. Menyaksikan dua ikan cupang berkelahi rasanya asyik betul. Saat ikan marah, bentuknya menjadi lebih indah. Siripnya terkembang sempurna. Ya, cupang memang dikenal sebagai ikan aduan. Waktu bertarung bisa tiga jam, sampai salah satunya mati dan yang lain lemas. Wah….

”Di habitat aslinya, ikan ini memang soliter. Di satu lubuk, biasanya hanya ada satu pejantan. Makanya kalau bertemu jantan lain, berkelahi,” ujar Toni Hidayat (29), Ketua INBS.

Kalau ketemu betina? Cupang jantan akan berjoget lantas membuat sarang busa dengan air liurnya. Kalau kawin, cupang betina dijepit si jantan. ”Nah kalau ceweknya terlalu gemuk, ia ditubruk cowoknya agar keluar telur. Telurnya diambil cowoknya dan ditaruh di busa. Indah, deh,” tutur Toni. ”Oya, biasanya cupang kawin pukul 10 pagi,” sambung pria yang rupanya gemar menonton cupang kawin ini.

Toni mengenal cupang sejak usia lima tahun. Saat ia sekolah dasar, saban pekan selalu datang penjual ikan ke sekolah sampai dikerubuti anak-anak. Ia pun mulai gemar mengadu cupang. ”Sampai SMA saya masih suka ngadu, tapi pas kuliah saya stop,” tuturnya. Koleksi cupang yang ia miliki kemudian dipelihara dan dikembangbiakkan hingga ratusan ekor.

Anggota komunitas lain, Joty Atmadjaja (46), mempunyai pengalaman sama. ”Dulu kalau saya diajak ke pasar, selalu berhenti di toko ikan. Saya pandangi lama-lama semua ikan hias. Ketika melihat cupang, saya tertarik, karena suka beradu. Saya lalu terbiasa mengadu ikan cupang, asyik rasanya,” tutur wiraswasta yang mengoleksi ribuan ekor cupang hias dan ratusan cupang alam ini.

Saat ia dewasa, kenangan masa kecil muncul kembali. Kali ini cupang bukan lagi untuk diadu, tetapi untuk dinikmati keindahannya, dipelihara, dikoleksi, dibudidaya, dan bisa juga dijual sampai mancanegara.

Joty bahkan sampai keluar dari perusahaan makanan olahan tempat ia bekerja pada tahun 2006 gara-gara cupang. Padahal, ia bekerja di perusahaan itu sejak 18 tahun lalu hingga posisi terakhir sebagai direktur marketing internasional. ”Demi kecintaan pada cupang. Enggak enak kan sama atasan dan anak buah karena mereka lebih sering melihat cupang di layar komputer saya dibanding urusan kerjaan, he-he-he,” jelasnya.

Kini setelah berwiraswasta, Joty lebih bebas mengatur waktu untuk bercengkerama dengan cupang-cupangnya. ”Bisa berjam-jam ngurus cupang. Bersihin akuarium, kasih makan, memandanginya menari, menikmati warna-warna cerahnya. Lupa makan deh,” ungkapnya.

Komunitas dunia

Dari mana lagi sesama penggemar ikan cupang berinteraksi kalau tidak lewat mailing list (milis) di internet. INBS generasi pertama diketuai oleh Abdul Sahal (46), wartawan Republika. Milis dibentuk menyusul kelahiran komunitas ini pada tahun 2001. Hingga kini anggota milis mencapai ratusan orang di seluruh Indonesia. ”Komunitas kami sudah menjadi bagian dari komunitas ikan cupang dunia,” terang Sahal.

Maksudnya, INBS mendapat sertifikasi dari International Betta Congress (IBC), komunitas tingkat dunia penyelenggara kegiatan-kegiatan internasional yang berhubungan dengan ikan cupang yang dibentuk tahun 1966. ”Kalau ada kontes ikan cupang sedunia, kami selalu ngirim perwakilan, bisa ikannya saja atau ikan dan pemiliknya. Kami masuk chapter Asia Tenggara,” jelas Sahal. Ditambahkan, tempat kontes berpindah-pindah, bisa di Asia, Eropa, atau Amerika.

Soal kontes-kontesan, Indonesia selalu percaya diri. Itu lantaran habitat asli ikan ini memang kebanyakan di Asia Tenggara. termasuk Indonesia, terutama di Kalimantan dan Sumatera. Indonesia paling bangga mengirimkan jenis ikan cupang serit atau crowntail. ”Kami selalu juara kalau kontes ikan serit karena memang jenis ini yang paling bagus ya dari Indonesia,” ujar Toni. Namun, untuk jenis halfmoon dengan ekor mengembang membentuk huruf D, jagonya adalah negara Swiss.

Menjadi bagian dari IBC bukan untuk gagah-gagahan, namun pembuktian keseriusan menggauli hobi budidaya ikan cupang. ”Kegiatan lain adalah konservasi alam. Ini untuk mengubah anggapan orang bahwa cupang tidak untuk diadu, namun untuk dinikmati dan dibudidaya,” terang anggota lain, Gempur Susetyo Hadi (40), karyawan Bank Mandiri.

Hanya seperempat dari anggota INBS yang benar-benar menekuni cupang untuk bisnis. Selebihnya karena hobi, seperti diakui Rahman, karyawan marketing perusahaan alat berat. Arif Rifai (22), pegawai Departemen Perhubungan, paling suka memotreti cupang-cupang yang sedang berenang. ”Untuk melatih keterampilan motret, he-he-he,” sahutnya.


Editor :