PACITAN, RABU - PT Pura Jatropha Mandiri, Kudus memberikan bantuan sepuluh juta bibit jarak untuk ditanam di Donorojo, Pringkuku, dan Punung di Pacitan. Pihak perusahaan berjanji hasil jarak nantinya akan mereka beli untuk mengganti solar dan batu bara yang selama ini digunakan perusahaan.
Menurut Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan, Suyatno, Rabu (30/7), hal ini tertuang dalam nota kesepahaman antara pihak perusahaan yang bergerak di bidang pembuatan kertas itu dengan Pemerintah Kabupaten Pacitan.
Tidak hanya berjanji membeli, perusahaan juga berjanji akan membeli hasil panen jarak dengan harga Rp 1.500 sampai Rp 2.000 per kilogram atau lebih tinggi dari harga jarak sekarang yang hanya Rp 500 Rp 1.000 per kilogram, katanya.
Ketiga kecamatan, yaitu Donorojo, Pringkuku, dan Punung, dipilih karena lahan di sana dinilai cocok untuk ditanami tanaman jarak. Pendekatan ke kelompok tani di tiga kecamatan itu agar mereka mau menanam jarak, menurutnya, telah dilakukan.
Dia menjelaskan, satu juta bibit tanaman jarak itu bisa ditanam di areal seluas 1.100 hektar sampai 1.600 hektar dengan perhitungan setiap hektar ditanami 600-900 bibit jarak. Jika seluruh bibit itu sudah menghasilkan, hasilnya bisa mencapai sembilan ton sampai 13,5 ton.
"Hasil ini bisa diperoleh setelah tanaman berusia sembilan bulan sampai satu tahun. Panen tanaman jarak ini nantinya bisa setiap hari," kata Suyatno.
Yang paling penting dari penanaman jarak ini, dia melanjutkan, bisa meningkatkan pendapatan warga di ketiga kecamatan itu. Selain itu, penanaman jarak bisa mengurangi jumlah lahan kritis di Kabupaten Pacitan yang luasnya mencapai sekitar 26.000 hektar.
Ketua Pengembangan T anaman Jarak dari PT Pura Jatropha Mandiri, Hartoyo, membenarkan kalau perusahaannya memberikan bantuan bibit sekaligus akan membeli hasil panen jarak nantinya dengan harga Rp 2.000 per kilogram. Berapapun jumlah panennya nanti, kami pasti beli, tambahnya.
Bahkan tidak hanya itu, jika nantinya hasil biji jarak di Pacitan mencapai 12 ton per hari, perusahaan akan membuat pabrik pengolahan biji jarak di Pacitan.
Menurut Hartoyo, hasil biji jarak itu nantinya akan diolah perusahaannya untuk dijadikan bah an bakar menggantikan solar yang digunakan kendaraan operasional perusahaan dan batu bara yang digunakan pembangkit listrik tenaga uap yang dimiliki perusahaan.


