Kamis, 17 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 17 Mei 2012 | 03:16 WIB
Hutan untuk Pelepasan Orang Utan Sulit Didapat
Ambrosius Harto | Kamis, 26 Juni 2008 | 23:21 WIB
|
Share:

Laporan Wartawan Kompas, Ambrosius Harto

SAMARINDA, KAMIS - Penyelamatan orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) terancam sebab hutan kian habis akibat dirusak dan dijadikan perkebunan. Lembaga penyelamat satwa liar dan Pemerintah sulit mendapat hutan untuk pelepasan orangutan seusai dirawat di pusat rehabilitasi.

"Kami akan kesulitan melepas 1.500 lebih orangutan yang masih di rehabilitasi," kata Kepala Subdirektorat Konservasi Jenis dan Genetik Departemen Kehutanan Ignasius Herry Djoko Susilo. Ia menjadi narasumber dalam lokakarya strategi dan rencana aksi perlindungan orangutan di daerah, Kamis (26/6), di Samarinda, Kalimantan Timur.

Nanang Kasim dari Yayasan Penyelamatan Orangutan Borneo (BOSF) menyatakan 2.550 orangutan telah dan masih dirawat di sepuluh pusat rehabilitasi di Sabah dan Sarawak di Malaysia, Kalimantan, dan Sumatera. Sebanyak 1.000 orangutan telah dikembalikan ke hutan.

Sebanyak 224 dari 1.550 orangutan tadi dirawat di Wanariset Samboja, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kaltim. Menurut Nanang, 109 orangutan sehat dan 95 lainnya siap dikembalikan ke hutan. Yang selebihnya masih dirawat sebab sakit Tuberculosis atau Hepatitis B.

Herry mengatakan, hutan yang masih bagus da n kaya pakan kian berkurang. Orangutan dari pusat rehabilitasi idealnya jangan dilepas ke hutan yang masih ada satwa sejenis yang liar. Tujuannya mencegah penularan penyakit. Namun, karena kemajuan teknologi, masalah itu bisa diatasi. "Pelepasan orangutan tak selalu di taman nasional, cagar alam, atau hutan lindung. Di areal hutan yang dikelola perusahaan pun bisa. Harus ada yang disisakan untuk kawasan perlindungan," kata Haris Surono Wardi Atmodjo dari Sinar Mas Group, kelompok usaha di bidang perkebunan dan pengelolaan hutan.

Penyelamatan orangutan, menurut Herry, tetap terancam selama manusia merusak hutan untuk kepentingan sendiri dan keuntungan dan pemerintah abai. Berkurangnya jumlah orangutan pertanda lingkungan manusia telah rusak. Satwa itu juga agen penyebar biji yang menjamin pemulihan hutan rusak lewat buah-buahan yang dimakannya.

Buku terbitan Departemen Kehutanan menyebutkan ada tiga subspesies orangutan di Kalimantan. Di Kalimantan Barat dan Sarawak hidup kurang dari 7.500 Pongo pygmaeus pygmaeus di lima lokasi. Di Kalimantan Tengah hidup sedikitnya 46.250 Pongo pygmaeus wumbii di 19 lokasi. Di Kalimantan Timur dan Sabah hidup 4.825 Pongo pygmaeus morio di delapan lokasi.