KOMPAS
Rabu, 10 Februari 2010 Selamat Datang  |     |  
Green Peace Indonesia Tetap Tolak PLTN
Rabu, 30 April 2008 | 18:54 WIB

JAKARTA, KOMPAS – Meski Indonesia sedang dilanda krisis energi,  Green Peace Indonesia tetap menolak gagasan untuk membangun pembangkit listri tenaga nuklir, seperti apa yang direncanakan pemerintah. Sebab, PLTN hanya akan membuat Indonesia bergantung pada negara lain dalam pengusahaan nuklir. Selain itu, teknologi pengelolaan limbah nuklir yang belum dikuasai juga membuat PLTN menjadi sangat berbahaya.

Itu belum lagi kalau terjadi kebocoran instalasi yang bisa mengancam keselamatan penduduk sekitar lokasi PLTN.

“Kami sangat tidak setuju terhadap rencana Pemerintah akan didirikannya PLTN, karena selain kita akan selalu bergantung pada negara lain untuk mengusahakan nuklir tersebut, limbahnya juga sangat membahayakan makhluk hidup bila tidak dikelola dengan profesional” kata Sonki Prasetya, Climate & Energy Campaigner Greenpeace Indonesia dalam diskusi tentang krisis energi di Jakarta, Rabu (30/4). Pembicara lain dalam diskusi itu adalah Koordinator Nasional Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) Siti Maemunah.

Seperti diberitakan, pemerintah kembali menghidupkan rencana pembangunan PLTN di Gunung Muria, Jepara, Jawa Tengah. Atas rencana itu, berbagai kalangan sudah menggelar aksi penolakan.

Penolakan atas PLTN itu juga dilandasi kenyataan bahwa di Indonesia masih terdapat sumber energi lain untuk pembangkit tenaga listrik. Misalnya, air, angin (bayu), panas bumi, matahari, dan sampah organik. Menurut Sony, kelima sumber energi tersebut sangat aman. "Sebagai negara tropis, kita tidak perlu membeli air, angin, cahaya matahari, panas bumi, atau sampah sekalipun ke negara lain. Pemerintah hanya harus melakukan pemetaan kepada setiap daerah di Indonesia, sumber daya alam manakah yang terdapat di dalamnya," kata Sony.

Ditambahkan Sony, dengan mengelola sumber energi terbarukan tersebut, kebutuhan akan bahan bakar fosil dan batu bara bisa ditekan.

Sementara itu, Siti Maemunah dari Jatam memaparkan bahwa potensi batu bara Indonesia sangat besar. Ironisnya, 80 persen dari produksi batu bara yang mencapai 100 juta ton itu justru diekspor. (C5-08)

Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.